Latest Entries »

SEJARAH PRA-AKSARA

 

a. Latar Belakang

Waktu merupakan salah satu konsep dasar sejarah selain ruang, kegiatan manusia. Perubahan dan kesinambungan. Ia merupakan unsur penting dari sejarah yaitu kejadian masa lalu. Dengan kata lain waktu merupakan konstruksi gagasan yang digunakan untuk memberi makna dalam kehidupan di dunia. Manusia tak dapat dilepaskan dari waktu karena perjalanan hidup manusia sama dengan perjalanan waktu itu sendiri.
Tiap masyarakat memilki pandangan yang relatif berbeda tentang waktu yang mereka jalani. Contoh, masyarakat Barat melihat waktu sebagai sebuah garis lurus. Konsep garis lurus tentang waktu diikuti dengan terbentuknya konsep tentang urutan kejadian. Dengan kata lain sejarah manusia dilihat sebagai sebuah proses perjalanan dalam sebuah garis waktu sejak zaman dulu, zaman sekarang dan zaman yang akan datang.
Berbeda dengan masyarakat Barat, masysrakat Hindu melihat waktu sebagai sebuah siklus yang berulang tanpa akhir. Dari perjalanan di atas tentang waktu, khususnya konsep waktu yang lurus, masa lalu perkembangan sejarah manusia akan mempengaruhi perkembangan masyarakat masa kini dan masa yang akan datang. Agar waktu dalam setiap peristiwa atau kejadian dapat dipahami, maka sejarah membuat pembabakan waktu atau periodisasi. Maksud periodisasi ini adalah agar babak waktu itu menjadi jelas ciri-cirinya. Contohnya sejarah Eropa dapat dibagi ke dalam 3 periode yaitu zaman klasik/kuno, zaman pertengahan dan zaman modern.
Sebenarnya ada istilah lain untuk menamakan zaman prasejarah yaitu zaman Nirleka, Nir artinya tidak ada dan leka artinya tulisan, jadi zaman Nirleka zaman tidak adanya tulisan. Batas antara zaman prasejarah dengan zaman sejarah adalah mulai adanya tulisan. Hal ini menimbulkan suatu pengertian bahwa prasejarah adalah zaman sebelum ditemukannya tulisan, sedangkan sejarah adalah zaman setelah adanya tulisan. Berakhirnya zaman prasejarah atau dimulainya zaman sejarah untuk setiap bangsa di dunia tidak sama tergantung dari peradaban bangsa tersebut. Salah satu contoh yaitu bangsa Mesir + tahun 4000 SM masyarakatnya sudah mengenal tulisan, sehingga + tahun 4000 bangsa Mesir sudah memasuki zaman sejarah. Dari penjelasan di atas, apakah Anda sudah paham? Kalau Anda sudah memahami, tentu Anda sudah mempunyai gambaran tentang sejarahIndonesia.

 

  1. Sumber-Sumber Prasejarah

 

Fosil adalah sisa-sisa makhluk hidup yang telah membatu karena adanya proses kimiawi. Fosil merupakan peninggalan masa lampau yang sudah tertanam ratusan peninggalan masa lampau yang sudah tertanam ratusan bahkan ribuan tahun di dalam tanah.

 

Sumber-sumber Sejarah Peristiwa masa lalu dapat diketahui secara lengkap dan mendekati kebenaran adanya sumber-sumber yang beranekaragam. Ditinjau dari wujudnya, maka sumber sejarah dapat dibagi lagi menjadi 3, yaitu:

  • Sumber lisan adalah sumber sejarah yang berupa keterangan dari seseorang atau beberapa orang yang menyaksikan langsung atau mengalami langsung suatu peristiwa.
  • Sumber tertulis adalah sumber sejarah yang berupa keterangan tertulis mengenai suatu peristiwa/kejadian misalnya data, dokumen, babad prasasti, naskah kuno, buku, dan sebagainya.
  • Sumber benda adalah sumber sejarah yang berupa benda-benda peninggalan budaya atau la zim dinamakan benda purbakala, misalnya: candi, senjata, gedung, dan sebagainya.

 

B. Proses Muncul Berkembangnya Kehidupan Awal Manusia Dan Masyarakat Indonesia


Dengan bantuan ilmu geologi ( ilmu yang mempelajari bumi ) perkembangan bumi dari awal terbentuknya sampai dengan sekarang, terbagi menjadi beberapa jaman yaitu;
a. Jaman azoikum (tidak ada kehidupan)
Jaman ini berlangsung sekitar 2500 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih panas karena sedang dalam proses pembentukan. Oleh karena itu pada jaman ini tidak ada tanda-tanda kehidupan.
b. Jaman paleozoikum (kehidupan tertua)
Jaman ini berlangsung sekitar 340 juta tahun, keadaan bumi masih belum stabil dan masih terus berubah. Akan tetapi menjelang akhir dari jaman ini mulai ada tanda-tanda kehidupan yaitu dari hewan bersel satu, hewan kecil yang tidak bertulang belakang, jenis ikan, amfhibi, reptil dan beberapa jenis tumbuhan ganggang. Karena itulah maka jaman ini dinamakan pula dengan jaman primer.


c. Jaman mesozoikum (kehidupan pertengahan)

Jaman ini di perkirakan berlangsung sekitar 140 juta tahun, pada jaman ini kehidupan telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pohon-pohon besar muncul, amfhibi mengalami perkembangan, bahkan jenis reftil mencapai bentuk yang sangat besar sekali seperti dinosaurus, tyrannosaurus, brontosaurus, atlantosaurus.
Ada pula jenis reftil yang memiliki sayap dan dapat terbang selama berjam-jam,  jenis ini dinamakan dengan pteranodon. Jaman ini dinamakan jaman sekunder (kehidupan ke-2), adapula yang menyebut jaman ini dengan istilah jaman reftil, karena jenis hewan di dominasi oleh reftil, karena jenis hewan didominasi oleh reftil dengan bentuk yang sangat besar. Pada akhir jaman ini mulai muncul jenis mamalia.
d. Jaman neozoikum (kehidupan muda)
Jaman ini diperkirakan berlangsung sekitar 60 juta tahun. Pada jaman ini keadaan bumi telah membaik, perubahan cuaca tidak begitu besar dan kehidupan berkembang dengan pesat.


e. Jaman tersier

Pada jaman tersier, reftil raksasa mulai lenyap, mamalia berkembang pesat, mahluk primata sejenis kera mulai ada kemudian muncul jenis orang utan sekitar 10 juta tahun yang lalu muncul jenis hewan primata yang lebih besar dari pada gorila sehingga disebut giganthropus. Hewan ini menyebar dari Afrika ke Asia Selatan, tetapi kemudian punah. Pada masa itu pulau Kalimantan masih bersatu dengan benua Asia, sebagai buktinya jenis babi purba (choeromous) dari jaman ini ditemukan pula di Asia Daratan.

f. Jaman quarter
Berlangsung sekitar 600 ribu tahun, ditandai dengan adanya tanda-tanda kehidupan manusia. Jaman ini terbagi atas jaman diluvium (pleistocen) dan jaman alluvium (holocen). Jaman diluvium berlangsung sekitar 600 ribu tahun yang lalu, mulai muncul kehidupan manusia purba. Jaman ini dinamakan pula jaman glacial (jaman es) karena es di kutub utara mencair sehingga menutupi sebagian wilayah Eropa Utara, Asia Utara dan Amerika Utara.

Pada masa ini Sumatera, Jawa, dan Kalimantan masih menyatu dengan daratan Asia, sedangkan Indonesia Timur dengan Australia. Mencairnya es di kutub telah mengakibatkan pulau-pulau di Indonesia dipisahkan oleh lautan baik dengan Asia maupun Australia. Bekas daratan Asia yang sekarang menjadi dasar laut disebut Paparan Sunda, sedangkan bekas daratan Australia yang terendam air laut disebut Paparan Sahul, kedua paparan tersebut dipisahkan oleh Zone Wallace.
Pada masa ini hewan-hewan yang berbulu tebal seperti mamouth (gajah besar berbulu tebal ) mampu bertahan hidup. Sedangkan yang berbulu tipis migrasi ke wilayah tropis.

Perpindahan hewan dari daratan asia keIndonesiaterbagi atas dua jalur. Pertama melaluiMalaysiake Sumatra dan Jawa, kedua melaluiTaiwan, Philipina keKalimantandan Jawa. Pada jaman ini terjadi pula perpindahan manusia dari daratan Asia keIndonesia, yaitu pitechanthropus erectus (ditemukan di Trinil) yang sama dengan sinanthropus pekinensis. Demikian juga dengan hasil kebudayaan Pacitan yang banyak ditemukandi Cina,Malaysia, Birma. Homo wajakensis yang menjadi nenek moyang bangsa Austroloid ikut pula menyebar dari Asia ke selatan sampai keAustraliadan menurunkan penduduk asliAustraliayaitu bangsa aborigin.

Jaman alluvium , pada masa ini kepulauanIndonesiatelah terbentuk dan tidak lagi menyatu dengan Asia maupunAustralia. Jenis manusia pertama yang migrasi dari Asia keIndonesiatelah tidak ada dan digantikan oleh jenis manusia cerdas (homo sapiens).

 

C. Kronologis Perkembangan Biologis Manusia Purba Indonesia
Kehidupan manusia pra sejarah dapat di ketahui melalui berbagai fosil.  Berdasarkan penelitian manusia tersebut telah memiliki kemampuan untuk mengembangkan kehidupan walaupun masih sangat sederhana dan kemampuan berfikir terbatas. Berikut ini beberapa penemuan fosil manusia purba di Indonesia

a. Meganthropus Paleo Javanicus

Artinya manusia Jawa tertua yang berbadan besar, yang hidup di Jawa sekitar 2-1 juta tahun silam. Manusia ini mempunyai ciri biologis berbadan besar, kening menonjol, tulang pipi tebal, rahang besar dan kuat, makanan utamanya adalah tumbuhan dan buah-buahan, hidup dengan cara food gathering (mengumpulkan makanan ). Ralph von Koenigswald menemukan fosil dari rahang bawah manusia jenis ini di Sangiran (lembah Bengawan Solo) pada 1941


b. Pitechanthropus

Diartikan dengan manusia kera, fosilnya paling banyak ditemukan di Indonesia. Mereka hidup dengan cara food gathering dan berburu. Pitechanthropus terbagi kedalam beberapa jenis yaitu: pitechanthropus mojokertensis, robustus, dan erectus.

Pitechanthropus mojokertensis fosilnya ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1936, dalam bentuk tengkorak anak-anak berusia 5 tahunan di Mojokerto (lembah Bengawan Solo). Hidup sekitar 2,5 – 2,25 juta tahun lalu. Ciri – ciri biologisnya antara lain: muka menonjol kedepan, kening tebal dan tulang pipi yang kuat
Pitechanthropus robustus, fosilnya ditemukan oleh Wiedenreich dan Koenigswald di Trinil (Ngawi,  Jawa Timur) 1939. Ciri biologisnya hampir sama dengan pitechathropus mojokertensis, bahkan Koenigswald menganggapnya masih dari jenis yang sama
Pitechanthropus erectus, (manusia kera berjalan tegak), fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di Trinil (Ngawi, Jatim) pada 1890. Mereka hidup sekitar 1 juta sampai 600 ribu tahun yang lalu. Ciri biologisnya bertubuh agak kecil, badan tegap, pengunyah yang kuat, volume otak 900 cc, kemampuan berfikir masih rendah, menurut pendapat teuku jakob, manusia ini telah bisa bertutur.

c Homo

Jenis homo soloensis, fosilnya ditemukan antara 1931 -1934 oleh Von Koenigswald,  di sepanjang lembah Bengawan Solo. Homo soloensis diperkirakan hidup antara 900-200 ribu tahun lalu. Ciri biologis diantaranya bentuk tubuh tegak, kening tidak menonjol. Menurut Koenigswald, jenis ini lebih tinggi tingkatannya dari pitechanthropus erectus
Homo wajakensis, fosilnya ditemukan oleh Rietschoten dan Dubois antara tahun 1888-1889 di desa Wajak (Tulung Agung ). Ciri biologisnya: tinggi mencapai 130-210 cm, berat badan sekitar 30 – 150 kg, volume otak sampai dengan 1300cc. Mereka hidup dengan makanan yang telah dimasak walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.

 

D. Periodisasi Perkembangan Budaya pada Masyarakat Awal Indonesia Berdasarkan Bukti Arkeologi
Berdasarkan arkeologi (ilmu yang mempelejari peninggalan purbakala dari manusia pra sejarah ). Perkembangan budaya manusiaIndonesia dapat digolongkan menjadi beberapa periode yaitu periode jaman batu (batu tua, batu tengah, batu muda, dan jaman logam (perunggu) ).

 

a. Jaman Batu Paleolithikum (batu tua)

 

Ciri dari jaman ini adalah peralatan buat dari batu masih kasar dan belum diasah. Alat dari batu ini dibuat dengan cara membenturkan batu yang satu dengan yang lainnya, pecahan batu yang menyerupai kapak kemudian mereka gunakan sebagai alat.

Cara hidup manusia pada jaman palleolithikum adalah: nomad dalam kelompok kecil , tinggal dalam gua atau ceruk karang, berburu. Mengumpulkan makanan (food gathering) . Menurut Teuku Tacob, bahasa sebagai alat komunikasi telah ada dalam tingkat sederhana. Berdasarkan tempat penemuannya, jaman palleolithikum terbagi atas kebudayaan Pacitan dan Ngandong
Kebudayaan Pacitan, peralatan yang dihasilkan adalah kapak genggam, alat penetak (chopper), ditemukan oleh Koenigswald 1935. Selain di Pacitan, alat – alat tersebut ditemukan pula di beberapa daerah seperti : Sukabumi (Jabar), Parigi, Gombong (Jateng) , Lahat (Sumsel), Lampung, Bali,Sumbawa, Flores, Sulsel. Alat-alat tersebut ditemukan pada lapisan yang sama dengan ditemukannya fosil pitechanthropus erectus
Kebudayaan Ngandong, peralatan yang ditemukan adalah flakes (alat serpih) berupa pisau atau alat penusuk. Disamping itu ditemukan pula peralatan dari tulang dan tanduk. Berupa belati, mata tombak yang bergerigi, alat pengorek ubi, tanduk menjangan yang diruncingkan dan duri ikan pari yang diruncingkan. Alat-alat tersebut ditemukan pula di daerah lain seperti di Sangiran dan Sragen (Jateng). Manusia pendukung kebudayaan Ngandong adalah homo soloensis dan homo wajakensis, karena ditemukan pada lapisan tanah yang sama dengan peralatan kebudayaan Ngandong
b. Mesolitihkum (batu tengah)
Ciri dari jaman ini adalah peralatan dari batu yang telah diasah bagian yang tajamnya. Jaman ini merupakan peralihan dari palleolithikum ke neolithikum. Yang menarik dari jaman messolithikum adalah ditemukannya tumpukan sampah dapur yang kemudian diberi istilah kjokkenmoddinger dan abris sous roche oleh penelitinya yaitu Callenfels (dijuluki bapak pra sejarah)
Kjokkenmoddinger adalah tumpukan kulit kerang dan siput yang telah membatu, banyak dijumpai di pinggir pantai. Sedangkan abris sous roche adalah tumpukan dari sisa makanan yang telah membatu di dalam gua.     Cara hidup messolhitikum adalah sebagian masih food gathering dan berburu tetapi sebagian telah menetap dalam gua dan bercocok tanam sederhana (berladang) menanam umbi-umbian. Telah pula menjinakan hewan dan menyimpan hewan buruan sebagai langkah awal untuk berternak
Mereka telah membuat gerabah, mengenal kesenian dalam bentuk lukisan di dinding gua (lukisan gua) ketika mereka telah menetap. Lukisan tersebut berupa gambar telapak tangan berlatar belakang warna merah, gambar babi rusa yang tertancap panah (di Gua Leang-leang – Sulsel), penelitinya dilakukan oleh Heekren Palm, 1950 di gua pulau Muna , ditemukan berbagai lukisan manusia, kuda, rusa, buaya, anjing. Di Maluku dan Papua, lukisan gua dalam bentuk gambar cap tangan, kadal, manusia, burung, perahu, mata, matahari.
 

 

Jaman messolithikum terbagi atas 3 kelompok budaya :

 

  • kebudayaan fleks (fleks culture)
  • kebudayaan pebble (pebble culture )
  • kebudayaan tulang (bone culture)

Kebudayaan ini didukung oleh manusia dari jenis Papua Melanesoid yang berasal dari Indo-Cina
Fleks culture, peralatan berupa alat serpih yang telah ada jaman palleolithikum , menjadi sangat penting pada jaman messolithikum, sehingga memunculkan corak tersendiri. Terutama setelah mendapatkan pengaruh dari budaya daratan. Dua orang peneliti berkebangsaan Swiss (Fritz Sarasin dan Paul Sarasin ) antara 1893-1896, melakukan penelitian di Sulsel, dan berhasil menemukan fleks. Peralatan sejenis juga ditemukan di daerah lain yaituBandung (fleks dari obsidian yaitu batu hitam yang indah), Flores, NTT danTimor. Flakes culture merupakan pengaruh dari Asia Daratan yang masuk keIndonesia melalui jalur timur yaituJepang,Taiwan, Philipina,Sulawesi
Pebble culture, peralatan berupa kapak genggam Sumatera (pebble), kapak pendek (hacte curte), batu penggiling, pisau, Callenfels pada 1925, melakukan penelitian di pesisir Sumatera dan menemukan peralatan di atas bersama kjokkenmoddinger. Pebble culture merupakan pengaruh dari kebudayaan bacson hoabinh (Indo-Cina) yang masuk keIndonesia melalui jalur barat yaitu Malaka dan Sumatera
Bone culture, penelitian dilakukan oleh Callenfels 1928-1931 di Ponorogo. Peralatan tersebut ditemukan bersama dengan abris sous roche di gua-gua. Ditemukan pula fosil dari jenis manusia Papua melanesoide, yang merupakan nenek moyang orang Papua (Irian). Peralatan dan fosil sejenis di temukan pula di besuki dan Bojonegoro

 
c. Neolhitikum (batu muda)

 

Ciri jaman batu muda adalah pemakaian peralatan dari batu yang telah diasah halus karena telah mengenal teknik mengasah. Pada jaman ini terjadi revolusi kehidupan (perubahan dari kehidupan nomad dengan food gathering menjadi menetap dengan food producing)
Cara hidup pada jaman neolithikum adalah hidup menetap, bertempat tinggal dekat sumber air, food producing (menghasilkjan makanan dari bercocok tanam dan berternak walaupun berburu masih dilakukan terutama pada waktu senggang), membuat rumah bertonggak dengan atap dari daun-daunan membuat kain dari kulit kayu (ditemukan pemukul kulit kayu), membuat perahu atau rakit, membuat perhiasan dari batu-batu kecil indah. Menurut penelitian Kem mereka berkomunikasi dengan menggunakan bahasa melayu Polinesia
Pada akhir jaman ini telah dikenal kepercayaan dalam bentuk animisme (kepercayaan tentang adanya arwah nenek moyang yang memiliki kekuatan gaib ) dan dinamisme (kepercayaan terhadap benda-benda yang dianggap memilki kekuatan gaib). Mereka percaya bahwa setelah mati ada kehidupan lain sehingga diadakanlah berbagai upacara terutama bagi kepala sukunya. Mayat yang dikubur disertai dengan berbagai macam benda sebagai bekal di alam lain. Dan sebagai peringatan maka dibangunlah berbagai monumen (bangunan) yang rutin diberi sajian agar arwah yang meninggal (leluhur) melindungi dan memberikan kesejahteraan bagi sukunya.
Pada jaman ini pembuatan gerabah memegang peranan penting sebagai wadah atau tempat dalam kehidupan sehari-hari. Adapula gerabah yang digunakan untuk keperluan upacara dan gerabah yang dibuat dengan indah baik bentuk maupun hiasannya. Berdasarkan peralatannya kebudayaan jaman neolitihkum di bedakan menjadi kebudayaan kapak persegi dan kapak lonjong berasal dari heine geldern berdasarkan kepada penampang yang berbentuk persegi panjang dan lonjong
Kebudayaan kapak persegi, kebudayaan kapak persegi berasal dari Asia Daratan yang menyebar keIndonesia melalui jalur barat melalui Malaka, Sumatera, Jawa, Kalimantan,Sulawesi, dan Nusatenggara. Terdapat kapak persegi ukuran kecil (digunakan sebagai fungsi kapak) dan yang ukuran besar (digunakan sebagai fungsi beliung atau cangkul). Di beberapa daerah ditemukan bekas-bekas pusat kerajinan kapak persegi seperti di Lahat (Palembang),Bogor, Sukabumi, Purwakarta, Tasik (Jabar), Pacitan (Jatim).
Kapak persegi didukung oleh manusia proto melayu (melayu tua ) yang migrasi ke Indonesia menggunakan perahu bercadik sekitar 2000 sm. Yang merupakan keturunan ras melayu tua adalah suku Sasak, Toraja, Batak dan Dayak. Di Minahasa (Sulut ) ditemukan kapak bahu, sejenis kapak persegi diberi leher untuk pegangannya. Kebudayaan kapak lonjong, ukuran kapak lonjong ada yang besar (walzenbeli) dan kecil (kinbeli) , sering di sebut dengan istilah neolith papua karena penyebarannya terbatas di Irian saja oleh bangsa papua melaneside.  Dari peralatan yang ditemukan, baik kapak persegi maupun kapak lonjong dibuat dari batu api (chalcedon), terdapat pula kapak yang tidak terdapat tanda-tanda bekas dipakai dalam bentuk yang indah (sebagai alat berharga, lambing kebesaran atau jimat).
d. Jaman Logam (Jaman perunggu)

 

Kebudayaan perunggu di Asia Tenggara merupakan pengaruh dari kebudayaan dongson, yang berkembang di Vietnam, Geldern berpendapat bahwa kebudayaan dongson berkembang paling muda sekitar 300 sm pendukung kebudayaan perunggu adalah bangsa Deuteuro Melayu (melayu muda) yang migrasi ke Indonesia sambil membawa kebudayaan dongson. Keturunannya adalah Jawa,Bali,Bugis, Madura, dll. Bahkan ditemukan beberapa bukti bahwa telah terjadi pembaruan antara melayu monggoloide (proto melayu dengan deuteuro melayu) dan papua melaneside.

Ciri jaman perunggu adalah pemakian peralatan dari logam yang dikembangkan melalui tehnik bivalve (rangkap) dan a cire perdue (cetak lilin). Namun bukanlah berarti setelah itu peralatan dari batu dan gerabah ditinggalkan karena masih terus dipergunakan bahkan sampai sekarang
Ciri kehidupan pada jaman perunggu adalah telah terbentuk perkampungan yang teratur dipimpin oleh kepala suku atau ketua adat, tinggal dalam rumah bertiang yang besar yang bagian bawahnya dijadikan tempat ternak, bertani (berladang dan bersawah) dengan system irigasi sehingga pengairan tidak selalu bergantung kepada hujan.

Telah terdapat pembagian kerja berdasarkan keahlian sehingga munculah kelompok undagi (tukang yang ahli membuat peralatan logam). Mereka telah menguasai ilmu astronomi (untuk kepentingan pelayaran dan pertanian ) dan membuat perahu bercadik.

Beberapa hasil budaya pada jaman perunggu adalah kapak corong (kapak sepatu), candrasa (kapak corong yang salah satu sisinya memanjang), terdapat candrasa dan kapak corong yang indah dan tidak ada tanda-tanda bekas digunakan. Nekara (seperti dandang tertulungkup), moko (nekara yang lebih kecil), terdapat berbagai perhiasan seperti garis lurus, piln-pilin, binatang, rumah, perahu, lukisan orang berburu, tari dan lukisan orang cina (monggol)
Selain itu mereka membuat bejana perunggu (berbentuk seperti periuk yang gepeng) dengan hiasan indah (dalam bentuk garis dan burung merak). Arca perunggu berupa arca (ditemukan di Bangkinang – Sulsel, Bogor-Jabar, dan Riau ) perhiasan perunggu seperti gelang, kalung, anting, dan cincin
e. Kebudayaan megalithikum (batu besar)

 

Disebut kebudayaan batu besar karena pada umumnya menghasilkan kebudayaan dalam bentuk monumen yang terbuat dari batu berukuran besar. Kebudayaan ini muncul pada akhir jaman neolhitikum, tetapi perkembangannya justru terjadi pada jaman perunggu (kebudayaan dongson)
Hasil-hasil dari kebudayaan megalithikum memberikan petunjuk kepada kita mengenal perkembangan kepercayaan, terutama pemujaan terhadap arwah nenek moyang, yang memang telah muali nampak pada akhir jaman neolithikum berikut ini adalah hasil-hasil budaya megalhitikum:

 

  • Menhir, tugu batu yang terbuat dari batu tunggal, yang berfungsi sebagai tanda peringatan dan melambangkan arwah nenek moyang sehingga menjadi bendapemujaan , menhir banyak ditemukan di Pasemah, Lahat, Sungai Talang Koto (Sumatera), Nagada (Flores)
  • Dolmen, meja batu tempat sesaji, ada dolmen yang disangga oleh menhir dan ada pula yang digunakan sebagai penutup keranda atau sarchopagus, yang demikian dinamakan dengan pandhusa. Sarcophagus (keranda), peti mati tempat penyimpanan mayat yang berbentuk lesung terbuat dari batu utuh yang diberi tutup. Di Bali ditemukannya keranda yang berisi tulang belulang manusia, barang perunggu serta manik-manik
  • Kubur batu, peti mayat yang dipendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang dengan ke empat sisinya di buat dari lempengan – lempengan batu.Ada pula yang disebut waruga, yaitu kubur batu yang berbentuk bulat. Kubur batu banyak ditemukan di Kuningan (Jabar), Pasemah (Sumatera), Wonosari (Yogja) dan Cepu (Jateng).
  • Punden berundak, bangunan pemujaan terhadap roh nenek moyang yang berupa susunan batu bertingkat. Banyak ditemukan di Banten, Garut, Kuningan, Sukabumi (Jabar). Dalam perkembangan selanjutnya, punden berundak merupakan dasar dalam pembuatan candi, bangunan keagamaan maupun istana. Selain itu ditemukan pula hasil budaya megalithikum dalam bentuk patung atau arca manusia yang menggambarkan wujud nenek moyang atau arca binatang. Banyak ditemukan di daerah Pasemah (Sumatera), sementara di di Lembah Bada (Sulteng) ditemukan patung manusia (laki-laki dan perempuan).

 

a. Kesimpulan

 Perkembangan bumi dari awal terbentuknya sampai dengan sekarang, terbagi menjadi beberapa jaman yaitu :

  • Jaman azoikum (tidak ada kehidupan)
  • Jaman paleozoikum (kehidupan tertua)
  • Jaman mesozoikum (kehidupan pertengahan)
  • Jaman neozoikum (kehidupan muda)
  • Jaman tersier
  • Jaman quarter

 

Penemuan fosil manusia purba diIndonesia:

  • Meganthropus Paleo Javanicus
  • Pitechanthropus
  • Homo

 

Penggolongan perkembangan budaya manusiaIndonesia:

  • Paleolithikum (batu tua)
  • Mesolitihkum (batu tengah)
  • Neolhitikum (batu muda)
  • Jaman perunggu
  • Kebudayaan megalithikum (batu besar)


  1. A.    Latar Belakang

Filsafat Sejarah Spekulatif merupakan suatu perenungan filsafat mengenai tabiat atau sifat-sifat gerak sejarah, sehingga diketahui srtruktur dalam yang terkandung dalam proses gerak sejarah dalam keseluruhannya. Cerita sejarah melukiskan sebagai segala sesuatu dengan bersahaja, yaitu tidak menyebut sebab-sebab mutlak atau sebab yang pasti. Hanya rangkaian peristiwa yang saling dihubungkan dengan menunjukkan sangkut-pautnya.

Soal obyektif-subyektif, soal serba tidak berat sebelah adalah soal dasar dalam ilmu sejarah. Masalah pendirian, sikap, merupakan masalah yang penting juga. Semuanya ditinjau dengan sepintas lalu saja. Titik berat masalah ini adalah: terjadinya cerita-cerita sejarah serta cara menghargainya.lmu sejarah menyelidiki arti dan tujuan sejarah, gerak sejarah, isi, bentuk, makna tafsiran sejarah.

Apakah sejarah atau kondisi-kondisi historis merupakan realitas objektif yang mandiri dari akal manusia, dari konsepsinya, dari tindakan-tindakannya, Ataukah ada suau determinisme sejarah yang paripurna dan memaksakan dirinya dari luar terhadap manusa dan manusia ini sendiri tidak mampu mengubahnya, Ataukah manusialah yang membuat sejarah dan men gendalikan perjalanannya, Kaum materialis mempercayai pendapat pertama. Mereka merujukkan segala perubahan historis pada kondisi-kondisi ekonomis dan bentuk serta sarana produksi dalam masyarakat. Lebih jauh lagi mereka menyatakan tentang adanya determinisme historis. Pendapat yang kedua dipegangi para filosof idealis yang menolak determinisme sejarah dan menyatakan bahwa manusialah yang menggerakkan sejarah.

a.      Pengertian Dasar Tentang Gerak Sejarah

Sejarah adalah sejarah manusia dimana peran, penulis sejarah, dan peminatnya hanya manusia saja. Maka manusialah yang harus dipandang sebagai inti sejarah. Oleh sebab itu dapat dipahami apabila masalah itu dipandang sebagai akibat daripada pendapat manusia tentang dirinya, yaitu :

  1. Manusia bebas menentukan nasib sendiri dengan istilah interpersional otonom.
  2. Manusia tidak bebas menentukan nasibnya atau manusia ditentukan oleh kekuatan diluar pribadinya. Atau disebut dengan manusia heterofaham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafat disebut inderterminism dan faham heteronom disebut determinism.

Dari dua faham itu faham heteronom atau determinism adalah faham yang tertua. Menurut kepercayaan manusia tentang penentu nasibnya adalah :

a)      Alam sekitarnya dan segala isinya

b)      Kekuatan

c)      Tuhan

 

  1. b.      Beberapa Pengertian Gerak Sejarah

1)      Hukum fatum

Pada dasarnya alam raja sama dengan alam kecil yaitu manusia. Macro cosmos sama dengan micro cosmos. Cosmos menunjukkan bahwa alam teratur dan di alam itu hukum alam berkuasa. Hukum yang berlaku dalam macro dan micro cosmos yaitu alam raja dan alam manusia dikuasai oleh nasib (kadar) yaitu suatu kekuatan gaib yang menguasai macrocosmos-microcosmos.

Perjalanan hidup alam semesta ditentukan oleh nasib; perjalanan matahari, bulan, bintang, manusia dan sebagainya. Tak dapat menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan oleh nasib.Hukum alam yang menjadi dasar dari segala hukum cosmos ialah hukum lingkaran atau hukum cyclus (siklus). Setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi. Hukum cyclus di Indonesia di sebut dengan cakra manggilingan yang berarti bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari cakram itu dan bahwa segala kejadian-peristiwa berlangsung dengan pasti. Cakram adalah lambang nasib (kadar) yang berputar terus serba abadi tanpa putus.

 

2)      Faham Santo Augustinus

Faham fatum menjelma dalam agama nasrani sebagai faham ketuhanan dengan sifat yang sama;

  • kekuatan tunggal fatum menjadi tuhan
  • serba keharusan, menurut rencana alam, menurut ketentuan fatum menjadi kehendak Tuhan
  • sejarah sebagai wujud kadar menjadi sejarah sebagai wujud kehendak Ilahi.

Tujuan gerak sejarah adalah terwujudnya kehendak Tuhan yaitu civitas dei atau kerajaan Tuhan. Masa sejarah adalah masa percobaan, masa ujian bagi manusia. Kehendak. Tuhan harus diterima dengan rela dan ikhlas; mnusia tidak dapat melepaskan diri dari kodrat Ilahi;. Keharusan kodrat Ilahi menurut faham ini ditambah dengan ancaman di akhirat masuk civitas diaboli (kerajaan iblis) atau neraka.

 

3)      Pendapat Ibn Khaldun

Teori Ibn khaldun berdasarkan pada kehendak Tuhan sebagai pangkal gerak sejarah seperti Augustinus, akan tetapi Ibn Khaldun tidak memusatkan perhatiaannya kepada akhirat. Tujuan sejarah adalah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha penyempurnaan peri kehidupannya. Baginya sejarah adalah ilmu berdasarkan kenyataan, dimana tujuan sejarah adalah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha penyempurnaan peri-kehidupan. Ibnu khaldun menunjukan perubahan – perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena kadar Tuhan, yang terdapat didalam masyarakat adalah “naluri” untuk berubah.

Justru karena perubahan-perubahan itu berupa revolusi, pemberontakan, pergantian adat-lembaga. Maka masyarakat –masyarakat dan negara-negara mengalami kemajuan. Manusia dan semua lembaga-lembaga yang diciptakan olehnya dapat maju khususnya melalui perubahan. Nyatalah bahwa ibn khaldun dengan pasti mengemukakan perubahan sebagai dasar-kemajuan dan itulah yang kemudian disebut dengan teori-evolusi (teori kemajuan)yang diciptakan oleh Charles Darwin.

 

4)      Renaissance dan Akibatnya

Disebabkan oleh kegiatan-kegiatan para ahli filsafat di Zaman Renaisance, pengaruh gereja mulai berkurang. Perhatian manusia beralih dari dunia akhirat kedunia yang fana ini, kepercayaan pada diri pribadi sendiri bertambah dalam sanubari manusia. Manusia itu sendiri lambat laun melepaskan diri dari agama serta beranilah mereka mengembangkan semangat-otonom. Sumber gerak Sejarah tidak dicari diluar pribadinya tetapi dicari dalam diri sendiri.

Hubungan dengan cosmos diputuskan, ikatan dengan Tuhan ditiadakan, manusia berdiri sendiri atau otonom. Gerak Sejarah tidak menuju ke akhirat tetapi kearah kemajuan duniawi. Maka dalam hidup yang seolah-olah tidak memerlukan tuhan itu lagi, timbul faham-faham baru yang berpedoman evolusi-tak-terbatas. Faham-faham itu terkenal historical-materialisme atau economic determinims.     Faham ini menerangkan bahwa pangkal gerak sejarah ialah ekonomi, dimana gerak sejarah ditentukan oleh cara-cara menghasilkan barang keperluan masyarakat (produksi).

Gerak sejarah terlaksanakan dengan pasti menuju kearah masyarakat yang tidak mengenal pertentangan kelas. Kemajuan ilmu pengetahuan serempak dengan kemajuan filsafat dan  teknik mengakibatkan timbulnya alam pikiran baru di Eropa. Gerak sejarah dipangkalkan pada kemajuan (evolusi) yaitu keharusan yang memaksa segala sesuatu untuk maju. Faham historical-materialism yang disusun Karl Marx (1818-1883) dan F. Engels (1820-1895). Jelas pula bahwa otonomi yang dibanggakan oleh manusia abad ke-19 sebetulnya hanya pembebasan dari Tuhan dan penambatan kepada hukum ekonomi.

 

5)      Tafsiran Sejarah Menurut Oswald Spengler

Dalil Oswald Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segala-galanya sama dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, hewan, sama pula dengan peri kehidupan manusia. Gerak sejarah tidak bertujuan sesuatu kecuali melahirkan, membesarkan, mengembangkan, meruntuhkan kebudayaan. Mempelajari sejarah bertujuan untuk mengetahui tingkat suatu kebudayaan (diagnose).

 

6)      Tafsiran Arnold J. Toynbee

Teori Toynbee didasarkan atas penyelidikan 21 kebudayaan yang sempurna dan  9 kebudayaan yang kurang sempurna. Menurut Toynbee gerak sejarah berjalan melalui tingkatan-tingkatan seperti berikut:

  1. genesis of civilizations – lahirnya kebudayaan
  2. growth  of civilizations – perkembangan kebudayaan
  3. decline of civilizations – keruntuhan kebudayaan
    1. breakdown of civilizations – kemerosotan kebudayaan
    2. disintegration of civilizations – kehancuran kebudayaan
    3. dissolution of civilizations – hilang dan lenyapnya kebudayaan

Pertumbuhan dan perkembangan suatu kebudayaan digerakkan oleh sebagian kecil dari pemilik-pemilik kebudayaan tersebut. Jumlah kecil tersebut menciptakan kebudayaan dan massa meniru. Tanpa meniru yang kuat dan dapat mencipta maka suatu kebudayaan tidak dapat berkembang

 

7)      Teori Pitirim Sorokin

Pitirim Sorokin adalah orang ahli sosiologi dan tersohor karangannya. Pendapatnya berbeda dengan aliran-aliran pendahulunya. Gerak sejarah terutama menunjukkan fluctuation from age to age yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam, dengan ganti berganti. Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah terutama menunjukkan fluctuation from age to age yaitu naik-turun,pasang-surut, timbul-tenggelam dengan berganti-ganti. Ia menyatakan tentang adanya cultural universe atau alam kebudayaan dan disitu terdapat masyarakat denagan aliran-aliran kebudayaan. Dalam ajaran yang seluas itu terdapatlah tiga corak (typus) yang tertentu yaitu :

  1. ideational yaitu mengenai kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayan.
  2. Sensate yaitu yang serba jasmaniah, mengenai keduniawian, berpusatkan panca indra.

Perpaduan daripada ideational-sensate ialah idealistik yaitu suatu kompromi

 

  1. c.       Gerak Sejarah Maju

Ide gerak sejarah yang maju ke depan sering dikemukakan para filsof yang cenderung mengukuhkan perbuatan manusia dan pencapaian-pencapaiannya dalam sejarah. Mengenai asal ide kemajuan ini bisa diacu pada pendapat-pendapat Bacon (Sahakian, 1968: 124-140) dan Descartes (Snyder, 1955: 25-28), dua panji kebangkitan ilmiah di Barat. Pada akhir abad ke-19 ide ini semakin tersebar luas, yaitu pada waktu terjadi polemik antara para pengikut sastrawan dan krtiisi lama dengan sastrawan dan kritisi baru.

Untuk mempertahankan sikap mereka, para pengikut sastrawan dan kritisi baru terpaksa menuduh para pengikut sastrawan dan kritisi lama bahwa mereka telah terperosok dalam khayalan pengukuran yang keliru. Yakni pada waktu mereka memandang orang-orang yang lebih dulu dari mereka sebagai orang-orang yang lebih kuat pikirannya. Padahal manusia apabila ia semakin dewasa kebijakannya pun semakin matang dan orisinal, demikian halnya kemanusiaan yang bersama perjalanan zaman semakin mengarah kepada kemajuan. Jadi, apabila manusia yang terdahulu mempunyai kelebihan dalam keterdahuluannya, maka manusia yang berikutnya mempunyai kelebihan dalam kesempurnaannya.

Teori kemajuan ini kemudian tersebar dan mempengaruhi bidang-bidang kegiatan manusia lainnya seperti politik, sosial, seni, filsafat, dan sejarah, sehingga pada abad ke-19 kata kemajuan memiliki berbagai makna. Di antara makna kata itu ada yang berkaitan dengan “ide perkembangan yang memandang watak manusia sebagai hasil tertinggi proses perkembangan itu sendiri”, dan oleh karena itu kemajuan historis juga terkandung dalam watak itu. Makna kata ini ada pula yang berkaitan dengan “filsafat denominasional”, di mana konsepsi kemajuan mengambil corak teori yang integral dalam filsafat sejarah, seperti halnya yang kita dapatkan pada beberapa filosof abad ke-19 seperti Karl Marx, Frederick Engels, dan lain-lain, atau dalam “filsafat sosial” yang diwakili oleh Auguste Comte dan John Stuart Mill. Kemudian pada abad ke-20, teori kemajuan meraih berbagai dukungan dari kalangan kaum Marxis, pragmatis, dan para penganut aliran eksperimental. Sejak awal kemunculannya, teori kemajuan erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Seruan para penganut teori ini pada dasarnya ditegakkan di atas kemajuan yang diraih kamanusiaan dalam sebagian ilmu pengetahuan yang membuat tersingkapnya sebagian hal yang tidak diketahui sebelumnya, dan di antara hasilnya adalah masa pencerahan dengan optimisme dan rasa percaya terhadap masa depan yang erat berkaitan dengannya, keinginan untuk mengendalikan alam, peremehan masa lalu dengan segala khurafatnya, dan keinginan untuk menguasai pembuatan sejarah.

Teori kemajuan ini oleh para pendukungnya dideskripsikan sebagai suatu proses akumulatif sepanjang masa. Oleh karena itu orang-orang zaman modern, dengan sarana dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, lebih maju ketimbang orang-orang zaman dahulu di bidang ilmu pengetahuan dan industri. Oleh karena itu kekaguman tidak logis terhadap orang-orang dahulu tidak mempunyai landasan, dan kekaguman itu menurut mereka merupakan batu penghalang jalan kemajuan manusia. Dengan pandangan yang demikian ini, kemajuan adalah filsafat optimistis yang memandang kesempurnaan manusia sebagai hal yang tidak terbatas dan sejarah manusia bergerak maju di mana pengetahuan manusia menjadi semakin berkembang dan sedikit demi sedikit semakin mendekati tujuan akhir masyarakat manusia, yaitu terealisasinya kebebasan, kesempurnaan, dan penguasaan sepenuhnya atas alam.

Dari segi lain, teori kemajuan mendapat kritik dari para penganut relativisme historis yang memandang teori kemajuan hanya sebagai salah satu pola organisasi sosial yang berupaya menganalisis realitas dan mengorganisasikannya berdasarkan percobaanpercobaan masa lalu, guna terjadinya perubahan yang lebih besar dan demi kebaikan sebanyak mungkin anggota-anggota masyarakat. Jadi, kemajuan dalam pengertian yang demikian ini merupakan suatu nilai moral yang lebih banyak mengandung suatu sifat pengarahan dan perasaan tanggung jawab bersama daripada merupakan suatu filsafat realistis tentang realitas sejarah dalam pengertiannya yang dikenal.

 

  1. d.      Gerak Sejarah Mundur

Kini kita beralih pada bentuk lani dari konsepsi beberapa peneliti tentang gerak sejarah. Apabila sementara ahli ada yang menganut ide gerak maju kemanusiaan ke depan, sebaliknya ada pula para ahli yang menyatakan bahwa kemanusiaan bergerak mundur. Namun ide gerak mundur historis ini tidak diperbincangkan banyak filosof, tidak seperti halnya dalam kalangan awam yang di setiap masa kita masih tetap mendengarkan dari mereka keluhan terhadap zaman dan kerinduan terhadap masa lalu, dengan kebaikan, kejayaan, dan keutamaan yang dimilikinya. Pesimisme historis yang demikian ini timbul, kadang-kadang, dari perasaan manusia yang merasakan kebrutalan masanya dan runtuhnya nilai-nilai estetis dan etis dalam kalangan banyak orang. Di antara faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan yang demikian itu adalah terjadinya peperangan yang menghancurkan, sirnanya harapan atas perdamaian dan perealisasian kemakmuran yang selalu berulang, dan sikap para tokoh agama terhadap kritik sosial atas etika masa yang sedang berlangsung.

Walaupun terjadi kemajuan berbagai sistem sosial yang bisa diamati, beberapa pemikir sering menyatakan ketidakmampuan kemanusiaan untuk mencapai kemajuan yang riil. Misalnya saja ujar Goethe: “Kini manusia menjadi lebih cerdas dan sadar, namun ia tidak menjadi lebih berbahagia dan bermoral”. Sementara Georges Sorel (meninggal pada tahun (1922) menentang para filosof kemajuan dan para penyusun teori-teori perkembangan sosial politik dan memandang para tokoh yang searah dengan Fovilles sebagai para penipu yang berkelebihan, sewaktu mereka menyatakan bahwa menyadari terjadinya peningkatan perasaan kehormatan manusiawi, kebebasan, dan individualitas dalam kalangan masyarakat dengan maju dan tersebarluasnya demokrasi.

Ide kemajuan, menurut beberapa penulis, dengan demikian merupakan ilusi yang dikemukakan sejumlah pemikir, filosof, dan pembaharu yang berpendapat bahwa sejarah umum, yang bergerak menurut garis horisontal, merupakan suatu “kemanusiaan” yang selalu bergerak. Akibatnya, mereka pun mengacaukan antara pengertian-pengertian yang tidak mempunyai indikator, seperti penguasaan rasio, kebahagiaan sejumlah besar orang, pencerahan, kebebasan bangsa-bangsa, penguasaan alam, perdamaian yang abadi, dan ilusiilusi lain-lainnya. Dalam hal ini mereka terdorong di belakang optimisme naif yang tidak dikuatkan oleh pengalaman sejarah: “Maka mereka pun mempunyai gambaran bahwa kemanusiaan bergerak secara terus-menerus ke arah suatu tujuan tertentu. Gambaran ini bukannya mereka terima karena adanya bukti ilmiah, tapi karena mereka mengharapkan hal itu dan harapan cukup menjadi bukti. Agar pandangan mereka itu mendapatkan landasan, mereka pun menciptakan kata “kemanusiaan”, dan seakan kemanusiaan merupakan sesuatu yang hakiki, maujud, hidup di luar”. Walau demikian kemanusiaan merupakan kata yang abstrak. Sebab, seperti dikatakan Goethe, dalam hari-hari yang telah lalu yang ada hanialah manusia. dan yang akan ada juga hanya manusia. Jadi, kata kemanusiaan itu ada kalanya mengandung makna species hewan dan ada kalanya tidak sama sekali mengandung suatu makna, baik apakah makna tujuan, perencanaan, atau upaya seperti dikemukakan para pendukung ide kemajuan.

Kaum pesimis ini sendiri, yang menganut ide gerak sejarah yang mundur ke belakang, apabila tidak mengajak massa untuk mengadakan revolusi yang keras, hampir tidak merefleksikan suatu garis pikiran yang gamblang dalam kalangan para sejarawan kebudayaan, karena sedikit sekali para filosof sejarah yang mengambil pendapat itu. Menurut pendapat paling ekstrem dari kaum pesimis ini, kebudayaan-kebudayaan mempunyai daur historis, yakni kebudayaan itu lahir, tumbuh, berkembang dan mati, seperti halnya makhluk hidup, untuk digantikan atau tidak setelahnya, oleh kebudayaan lainnya, seperti akan diuraikan nanti. Tampak bahwa sejarah – dalam perasaan manusia modern – telah menjadi suatu alam yang berjalin dan kompleks, yang membuat manusia tidak mampu memahami rinci-rinci dan bagian-bagiannya yang tersusun dalam satu pola yang bermakna. Menurut sejumlah penulis modern mengenai hal itu, rinci-rinci sejarah itu tidak menyajikan kepada kita kunci rasional apa pun yang membuat kita mampu memahami gerak sejarah. “Ia hanialah serangkaian perubahan-perubahan cepat yang tidak tergambarkan. Apalagi sejarahnya sendirilah yang tidak lagi membawa suatu misi ontologis yang bermakna: adakalanya ia tidak sama sekali mempunyai tujuan dan adakalanya mempunyai tujuan yang beraneka namun tidak ada satu pun yang memberi perasaan bermakna terhadap landasan harapan dan nilai-nilai manusiawi.

Pesimisme dalam memahami sejarah yang demikian itu, meski pada substansinya mengandung penghancur konsepsi kemajuan seperti yang dikenal, tidak menyatakan secara terang-terangan gerak sejarah yang mundur ke belakang, sebab ia mengungkapkan tentang sirnanya keyakinan atas keintegrala n rasio manusia, kesempurnaannya, dan kemampuannya untuk berhasil, mengaktualisasikan diri, dan berkembang, yaitu keyakinan yang begitu besar daya tarik dan pengaruhnya selama abad-abad pertama zaman modern. Oleh karena itu, masih banyak penulis modern yang menganut ide kemajuan, meski ide itu sendiri mendapat banyak kritikan dan meski sejumlah filosof merasa bahwa kebudayaan manusia modern hampir di ambang kehancuran.

Sebagai penutup uraian ringkas tentang ide gerak sejarah yang mundur ke belakang menuju ke hancuran, seperti dikemukakan sejumlah pengkaji, dapat dinyatakan bahwa seorang peneliti yang jujur tidaklah bisa membatasi perjalanan tertentu dari kebudayaan: bahwa ia bergerak maju ke depan atau mundur ke belakang. In i karena setiap kebudayaan mengalami kemajuan atau kemunduran, sebab itu masa lalunya tidak selalu bisa menjadi indikator masa depannya dan penguasaan intelektualnya terhadap alam pun tidak selalu menunjukkan kemajuannya yang menyeluruh. Untuk itu, perbincangan tentang masalah ini tidak akan diperpanjang lagi dan kini kita beralih pada sebuah pola lain dari gerak sejarah, seperti dikemukakan para penulis modern.

 

 

 

  1. e.       Gerak Sejarah Daur Kultural

Teori daur kultural adalah salah satu teori para pengasas filsafat kontemplatif sejarah, dimana konsepsi mereka tentang gerak sejarah biasanya tidak lepas dari upaya untuk menyingkapkan pola dan watak ritmenya. Di samping kelompok-kelompok yang menganut ide ge r a k  sejarah yang maju ke depan atau mundur ke belakang, seperti telah diuraikan di muka, ada kelompok yang menyatakan bahwa sejarah mempunyai daur kultural yang mengulang kembali dirinya sendiri dalam satu bentuk atau lainnya. Ibn Khaldun, Vico, Spengler, dan Toynbee dipandang sebagai para tokoh teori ini, meskipun sesama mereka tidak seiring pendapat mengenai rinci-rinci teori ini dan dimensi-dimensi sosial, historis, dan filosofisnya.

 

  1. f.       Sifat Gerak Sejarah

Teori-terori yang memberikan arah dan tujuan kepada gerak sejarah dapat disipulkan demikian :

  1. Tanpa arah-tujuan
  2. Pelaksanaan kehendak tuhan : gerak sejarah ditentukan oleh tuhan dan menuju kearah kesempurnaan manusia menurut kehendak tuhan
  3. Ikhtiar, usaha dan perjuangan manusia dapat menghasilkan perubahan dalam nasib yang sudah ditentukan oleh tuhan. Maka sejarah merupakan perimbangan antara kehendak Tuhan dengan usaha manusia
  4. Evolusi dengan kemajuan yang tidak terbatas : gerak sejarah membawa manusia setingkat demi setingkat terus kearah kemajuan.
  5. Disamping gerak evolusi itu terdapat paham historical-materialism yang menentukan bahwa masyarakat tak berkelas itu adalah muara daripada gerak sejarah setelah melalui masa kapitalis
  6. Reaksi terhadap faham evolusi itu menghasilkan beberapa aliran baru yaitu:
  • Aliran menuju ketuhanan seperti umpamanya faham A. J. Toynbee, bahwa gerak sejarah itu akan sampai kepada masa bahagia apabila manusia menerima tuhan serta kehendak tuhan sebagai dasar mutlak daripada perjuangannya
  • Aliran irama gerak sejarah menurut faham Pitirim Sorokin yang menyatakan bahwa gerak sejarah tidak bertujuan apa-apa dan bahwa gerak sejarah itu hanya menunjukkan datang lenyapnya atau ganti bergantinya corak-corak: ideational sensate dan idealistic
  • Aliran kemanusiaan yaitu suatu aliran yang sangat luas yang berpusatkan pendapat mutlak bahwa manusialah yang terpenting di dunia ini.

Gerak sejarah sukar ditentukan sifatnya karena kemungkinan-kemungkinan untuk memberikan tafsiran banyak sekali, tetapi betapa sukarnya juga untuk menentukan sifatnya nyatalah bahwa:

ü  Dasar mutlak daripada gerak sejarah adalah manusia

ü  Isi gerak sejarah adalah pengalaman kehidupan manusia

 

  1. g.      Tugas Manusia dalam Sejarah atau Manusia dalam Sejarah

Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula.

Apabila manusia dipisahkan dari sejarah maka ia bukan manusia lagi melainkan sejenis makhluk biasa seperti hewan. Sejarah adalah pengalaman-pengalaman manusia dan ingatan tentang pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Maka peran manusia dalam sejarah adalah bahwa ia adalah pencipta sejarah, sebagai penutur sejarah dan pembuat sejarah. Sehingga manusia adalah sumber sejarah.

Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia berjuang terus berarti dia terus berusaha memperbaiki taraf hidupnya. Ia terus diperkaya, diperindah, disempurnakan. Sejarahpun terus diperluas dengan perjuangan-perjuangan baru. Justru karena manusia menguasai warisan nenek moyang, ia dapat berjuang dengan lebih sempurna. Dengan menguasai sejarahnya, ia dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya.

Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting. Masyarakat tetap, tak bergerak menuju perubahan yang mengakibatkan kemajuan dan keruntuhan. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari sejarah. Manusia berjuang berarti bahwa ia terus berusaha memperbaiki taraf kehidupan.

 

Menurut para filosof sejarah pengikut metode kontemplatif terdapat tiga pola gerak di mana sejarah berjalan sesuai dengannya, yaitu:

 

a)      Sejarah berjalan menelusuri garis lurus lewat jalan kemajuan yang mengarah ke depan atau kemunduran yang bergerak ke belakang.

b)      Sejarah berjalan dalam daur kultural yang dilalui kemanusiaan, baik daur saling terputus,dan dalam berbagai kebudayaan yang tidak berkesinambungan atau daur-daur itu salingberjalin dan berulang kembali.

c)      Gerak sejarah tidak selalu mempunyai pola-pola tertentu.

 

Sejarah adalah sejarah manusia dimana peran, penulis sejarah, dan peminatnya hanya manusia saja. Maka manusialah yang harus dipandang sebagai inti sejarah. Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula. Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting

 


  1. A.    Latar Belakang

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa.

Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal. Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budayabahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama.

  • Menurut wilayah bisa dibagi menjadi: (“Filsafat Barat”, “Filsafat Timur”, dan “Filsafat Timur Tengah”).
  • Sementara latar belakang agama dibagi menjadi: (“Filsafat Islam”, “Filsafat Budha”, “Filsafat Hindu”, dan “Filsafat Kristen”).

 

A.    Pengertian filsafat islam

Dari segi bahasa, filsafat berasal dari bahasa Yunani, yaitu gabungan dari kata Philo yang artinya Cinta, dan Sofia yang artinya kebijaksanaan, ataupengetahuan yang mendalam. Jadi dilihat dari akar katanya, Filsafat mengandung arti ingin tahu dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan.

Adapun pengertian filsafat dari segi istilah para ahli, adalah berpikir secara sistematis, radikal dan universal, untuk mengetahui tentang hakikat segala sesuatu yang ada, seperti hakikat alam, hakikat manusia, hakikat masyarakat, hakikat ilmu, hakikat pendidikan dan seterusnya. Dengan demikian muncullah apa yang disebut dengan filsafat alam, filsafat manusia, filsafat ilmu dan lain sebagainya…

Dalam hal ini perlu juga dijelaskan tentang ciri-ciri berpikir yang philosophis. Yaitu :

  • Pertama harus bersifat sistematis. Maksudnya bahwa pemikiran tersebut harus lurus, tidak melompat-lompat sehingga kesimpulan yang dihasilkan oleh pemikiran tersebut benar-benar dapat dimengerti.
  • Kedua harus bersifat radikal , maksudnya harus sampai ke akar-akarnya, sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dipikirkan.
  • Ketiga harus bersifat universal, yaitu menyeluruh, melihat hakikat sesuatu dari hubungannya dengan yang lain, dan tidak dibatasi untuk kurun waktu tertentu.

Adapun pengertian Islam, dari segi bahasa dapat diartikan selamat sentosa, berserah diri, patuh, tunduk dan taat. Seseorang yang bersikap demikian disebut muslim, yaitu orang yang telah menyatakan dirinya ta’at, menyerahkan diri, patuh, dan tunduk kepada Allah SWT. Selanjutnya pengertian Islam dari segi istilah adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul. Ajaran-ajaran Islam tersebut selanjutnya terkandung dalam Al Qur’an dan As Sunnah.

Dari pengertian filsafat dan Islam sebagaimana diuraikan diatas, kita dapat berkata bahwa filsafat Islam, adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya Filsafat Islam itu dalah Filsafat yang berorientasi pada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.

Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih ‘mencari Tuhan’, dalam filsafat Islam justru Tuhan ‘sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya.

Al-Farabi berkata: Failusuf adalah orang yang menjadikan seluruh kesungguhan dari kehidupannya dan seluruh maksud dari umurnya mencari hikmah yaitu mema’rifati Allah yang mengandung pengertian mema’rifati kebaikan.

Ibnu Sina mengatakan, hikmah adalah mencari kesempurnaan diri manusia dengan dapat menggambarkan segala urusan dan membenarkan segala hakikat baik yang bersifat teori maupun praktik menurut kadar kemampuan manusia.

Kemudian Ahli tafsir Muhammad Abduh mengatakan bahwa hikmah adalah ilmu yang berhubungan dengan rahasia-rahasia, yang kokoh/rapi, dan bermanfaat dalam menggerakkan amal pekerjaan.

Sementara itu ada yang berpendapat bahwa asal makna hikmah adalah tali kendali untuk kuda dalam mengekang kenakalannya.

Dari sini makna diambillah kata hikmah dalam arti pengetahuan atau kebijaksanaan karena hikmah ini menghalang-halangi dari orang yang mempunyai perbuatan rendah. Kemudian hikmah diartikan perkara yang tinggi yang dapat dicapai oleh manusia dengan melalui alat-alatnya yang tertentu yaitu akal dan metode-metode berpikirnya. Apabila melihat ayat-ayat Al-Qur’an, maka ada beberapa arti yang dikandung dalam kata hikmah itu, antara lain adalah: Untuk memperhatikan keadaan dengan seksama untuk memahami rahasia syariat dan maksud-maksudnya.

Dengan demikian hikmah yang diidentikkan dengan filsafat adalah ilmu yang membahas tentang hakikat sesuatu, baik yang bersifat teoritis (etika, estetika maupun metafisika) atau yang bersifat praktis yakni pengetahuan yang harus diwujudkan dengan amal baik. Sampailah kita pada pengertian Filsafat Islam yang merupakan gabungan dari filsafat dan Islam. Menurut Mustofa Abdur Razik, Filsafat Islam adalah filsafat yang tumbuh di negeri Islam dan di bawah naungan negara Islam, tanpa memandang agama dan bahasa-bahasa pemiliknya. Pengertian ini diperkuat oleh Prof. Tara Chand, bahwa orang-orang Nasrani dan Yahudi yang telah menulis kitab-kitab filsafat yang bersifat kritis atau terpengaruh oleh Islam sebaiknya dimasukkan ke dalam Filsafat Islam.

Dr. Ibrahim Madzkur mengatakan: Filsafat Arab bukanlah berarti bahwa ia adalah produk suatu ras atau umat. Meskipun demikian saya mengutamakan menamakannya filsafat Islam, karena Islam bukan akidah saja, tetapi juga sebagai peradaban. Setiap peradaban mempunyai kehidupannya sendiri dalam aspek moral, material, intelektual dan emosional. Dengan demikian, Filsafat Islam mencakup seluruh studi filosofis yang ditulis di bumi Islam, apakah ia hasil karya orang-orang Islam atau orang-orang Nasrani ataupun orang-orang Yahudi (Fuad Al-Ahwani, Hal. 15).

Drs. Sidi Gazalba memberikan gambaran sebagai berikut: Bahwa Tuhan memberikan akal kepada manusia itu menurunkan nakal (wahyu/sunnah) untuk dia. Dengan akal itu ia membentuk pengetahuan. Apabila pengetahuan manusia itu digerakkan oleh nakal, menjadilah ia filsafat Islam. Wahyu dan Sunnah (terutama mengenai yang ghaib) yang tidak mungkin dibuktikan kebenarannya dengan riset, filsafat Islamlah yang memberikan keterangan, ulasan dan tafsiran sehingga kebenarannya terbuktikan dengan pemikiran budi yang bersistem, radikal dan umum (Drs. Sidi Gazalba, hal. 31).

Dengan uraian di atas maka dapatlah disimpulkan bahwa filsafat Islam adalah suatu ilmu yang dicelup ajaran Islam dalam membahas hakikat kebenaran segala sesuatu.

 

  1. B.     Asal-usul filsafat islam

Dalam karya-karya peneliti Barat, mayoritas mereka menggambarkan bahwa asal usul filsafat Islam berasal dari Yunani. Mungkin pendapat mereka ada benarnya jika dikaitkan dengan istilah falsafah yang dipakai untuk menyebut filsafat Islam. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa istilah falsafah merupakan derivasi dari kataphilosophia yang berasal dari bahasa Yunani. Namun, memahami istilah falsafah hanya sampai di situ tidak akan memberikan manfaat apa-apa, karena meskipun terkesan hanya Arabicized bahasa Yunani, ternyata keduanya mengandung konsep yang sangat berbeda. Hal inilah yang ternyata banyak luput dari pemahaman sebagian pengkaji filsafat Islam.

Istilah falsafah sebenarnya sudah tidak bisa lagi dikaitkan dengan asalnya philosophia,  karena adanya perbedaan makna yang mendalam antara keduanya. Istilah philosophia sendiri dari sejak zaman kuno, pertengahan, dan modern juga telah mengalami perubahan makna dari konsepsi rasional, kritis dan akhirnya konsepsi positivis. Padahal itu terjadi di alam peradaban Barat sendiri yang mengaku sebagai pewaris dan kelanjutan Yunani Kuno. Apalagi dengan peradaban umat Islam yang mempunyai worldview berbeda dengan Yunani. Oleh karena itu, tidak heran jika istilah falsafah itu sudah disesuaikan dengan konsep-konsep dalam worldview Islam yang dipancarkan oleh al-Qur’an. Hal ini akan kita buktikan lebih jelas dalam pembahasan interaksi para filosof muslim dengan warisan Yunani Kuno.

Di kalangan Muslim sendiri, pada mulanya nama falsafah dipakai sebagai julukan yang diberikan kepada aktivitas ilmiyah pada akhir abad ke-8 M. yang utamanya mengkaji teks-teks Yunani. Tidak sedikit para ulama yang menolak falsafah pada masa itu, khususnya dari para fuqaha’, muhaddithun dan para ulama salaf. Hal itu tidak lain karena  adanya pertentangan konsep falsafah dengan pandangan Islam sendiri. Namun setelah proses -sebut saja- islamisasi, nama falsafah dipahami sebagai istilah umum yang dapat diterima sebagai salah satu cabang pengetahuan dalam Islam. Asal usul nama falsafah pun akhirnya tidak lagi dipermasalahkan, yang jelas falsafahdikenal sebagai ilmu tentang Wujud. Bahkan, Ibn Taimiyah yang sebelumnya menolak keras, pada akhirnya menerima falsafah, tapi dengan syarat harus berdasarkan pada akal dan berpijak pada kebenaran yang dibawa oleh para Nabi. Falsafah yang demikian, ia sebut sebagai al-Falsafah al-Shahihah atau al-Falsafah al-Haqiqiyyah. Namun beliau tetap saja menolak pemikiran Ibn Sina, al-Farabi dan Ibn Rushd yang dianggap masih bercampur dengan pemikiran Yunani.

Adannya penolakan terhadap filsafat Yunani dan kemudian diterima oleh para ulama, menunjukkan bahwa Islam telah mempunyai konsep filsafat yang bukan berasal dari Yunani. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya istilahhikmah dalam tradisi intelektual Islam. Menurut Alparslan Acikegence, konsep-konsep seminal dalam al-Qur’an tentang alam semesta, manusia, penciptaan, ilmu, etika, kebahagiaan dan lain-lainnya adalah konsep-konsep asas bagi spekulasi filosofis dalam memahami realitas dan kebenaran. Semua itu dalam tradisi intelektual Islam tergolong dalam apa yang disebut hikmah. Dari sini sangat jelas bahwa dalam Islam tradisi berpikir filosofis sudah ada sebelum berinteraksi dengan tradisi Yunnani.

Oleh karena itu, Menurut C.A. Qadir, mengaitkan filsafat Islam dengan filsafat Yunani adalah jauh dari benar. Sumber pemikiran para pemikir Muslim yang asli adalah al-Qur’an dan al-Hadits. Yunani hanya memberi dorongan dan membuka jalan untuknya. Fakta bahwa Muslim berhutang pada Yunani adalah sama benarnya dengan fakta bahwa Muslim juga bertentangan dengan beberapa pemikiran filsafat Yunani. Dalam masalah Tuhan, manusia, dan alam semesta misalnya, para pemikir Muslim memiliki konsep mereka sendiri yang justru tidak terdapat dalam filsafat Yunani

Tanpa menafikan adanya hubungan antara filsasat Islam dan Yunani, MM. Sharif mengibaratkan pemikiran Islam dan Muslim sebagai kain, sedangkan pemikiran Yunani sebagai sulaman. Meskipun sulaman itu dari emas, kita hendaknya jangan menganggap sulaman itu kain. Ini artinya, menurut Hamid Fahmy Zarkasyi, meskipun di dalam filsafat Islam terdapat unsur-unsur Yunani, tetapi filsafat Islam bukanlah filsafat Yunani. Filsafat Barat sendiri yang juga mengandung unnsur Yunani, Islam dan Kristen, tetap saja disebut filsafat Barat dan dikaji menurut framework Barat.

Sementara Seyyed Hossein Nasr menyatakan bahwa Aristotle telah dikirim kembali ke tempat asalnya di Barat, bersamaan dengan murid terbesarnya, Averroes. Meskipun begitu Nasr menyadari bahwa filsafat Islam terdapat unsur-unsur Yunani. Hanya saja unsur-unsurnya yang sesuai dengan semangat Islam itu kemudian diintegrasikan ke dalam peradaban Islam, khususnya jika hal itu berkaitan dengan hikmah dalam pengertian yang universal, dan unsur-unsur yang bertentangan dibuang. Jadi, salah apabila berfilsafat dalam itu diartikan sebagai berpaham skeptisisme, keraguan dan beraktivitas secara individualistis sehingga justru melawan Tuhan

 

  1. C.    Ciri khas filsafat islam
    1. A.     Sebagai filsafat religious-spiritual

Dikatakan filsafat religious, karena filsafat Islam tumbuh di Jantung Islam dan tokoh-tokohnya dididik dengan ajaran-ajaran Islam, ataupun semangat Islam dan hidup dengan suasana Islam. Topic-topik yang terkandung dalam filsafat Islam bersifat religious, bermula dengan mengesakan Tuhan dan menganalisa secara universal kemudian menggambarkan Allah Yang maha Agung adlah bersifat abstrak dan suci, dimana keesaan mutlak dan kesempurnaan total bagi-Nya. Karena Ia adalah pencipta, menciptakan alam sejak azali mrngatur dan menatanya. Filsafat religious ini sangat memberikan perhatian kepada jiwa karena di dalam jiwa manusia terdapat Nur dan Ilahi. Filosof Islam berpendapat bahwa ruh merupakan sumber gerak dan sebagian saran kebahagiaaan.

 

  1. B.     Sebagai filsafat rasional

Filsafat rasional sangat bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika ketuhanan, manusia dan alam. Karena akal merupakan sesuatu pertama yang diciptakan Allah. Terdapat 2 tugas akal. Pertama bertugas mengendalikan badan dan tingkah laku, kedua, menerima pandangan-pandangan inderawi. Pada kenyataannya para filosof Islam memiliki kecenderungan rasional sejalan dengan Mu1tazilah yang mengagungkan akal. Mereka sepakat bahwa kebebasan berkehendak dan kemerdekaan manusia untuk berbuat. Mereka mengartikan teks-teks agama yang tidak sejalan dengan logika. Dan untuk mewujudkan itu, mereka mengadakan berbagai jenis majelis dan diskusi

 

  1. C.     Filsafat sinkretis

Adalah filsafat yang memadukan pemikiran atau pendapat antara filosof. Sebagaimana bangsa Arab yang sebagian besar telah dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani, dalam filosofi mereka setelah menaklukkan Laut Tengah mereka tidak hanya mempelajari bahkan menterjemahkan dialog dan buku atau karya dari Plato dan Aristoteles. Kedua tokoh inilah yang mempengaruhi banyak aliran islam karena Ia merupakan titik awal yang melandasi para filosof selanjutnya.

 

  1. D.    Filsafat yang berhubungan kuat dengan ilmu pengetahuan

Filsafat Islam berhubungan kuat dengan ilmu pengetahuan karena dalamkajjian filosof terdapat ilmu pengetahuan dan problematika saintis, dan sebaliknya dalam kajian saintis terdapat prinsip dan teori filosofis. Mereka memberikan pemecahan atas masalah fisika. Contohnya buku al-syifa,ensiklopedi filsafat Arab terbesar, karena buku ini berisi logika, fisika, matematika dan metafisika. Para filosof Islam adalah ilmuan diantara mereka ada ilmuan yang menonjol. Misalnya al-Kindi adalah seorang ilmuan sebelum menjadi filosof, Ia mengkaji masalah-masalah sistematis dan fisis.

 

  1. D.    Karakteristik filsafat islam

Tampilnya filsafat Islam di arena pemikiran merupakan hasil interaksi agama Islam dengan faktor ekstern. Faktor ekstern yang dimaksud adalah budaya dan tradisi non Islam yang sepanjang sejarah diwakili oleh Eropa dibelahan Barat, serta India, Iran, dan Cina di belahan Timur.

Kalau kita lacak dalan khazanah Islam, buku-buku yang menguraikan ihwal filsafat Islam, memang sudah cukup banyak ditulis. Akan tetapi hampir selalu saja terkesan adanya beberapa aspek yang terasa kurang puas. Akhirnya, setiap karya seperti itu memuat daftar panjang istilah-istilah filsafat Islam yang patut di dihargai dan harus apresiasi secara mendalam.

Haidar Bagir tidak mau ketinggalan, ia pernah menghadirkan sebuah karya yang dijuduli “Buku Saku Filsafat Islam” (2005), yang sekalipun dinamai “saku” namun buku tersebut cukup memadahi untuk mengantarkan kita memahami filsafat Islam secara holistik. Islam sebagai sebuah sumber peradaban, dipandang ikut meletakkan “prosesi batu pertama” bangunan budaya dan peradaban modern yang saat ini berkembang pesat di Barat. Di abad pertengahan itulah Islam merupakan juru ‘penyelamat’ bagi peradaban Yunani, Persia dan Romawi dengan cara menerjemahkannya ke dalam bahasa dan tradisi Islam.

Kemajuan Islam era pertengahan tidak saja mewarisi pengetahuan Yunani-Romawi, akan tetapi telah memodifikasi dan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Hal ini dibuktikan dengan hasil usaha kreatif cendikiawan muslim seperti al-Kindi, Ibn Sina, al-Farabi, al-Razi dan setelahnya, selain mengadopsi kekayaan pengetahuan mereka, juga melahirkan teori dan pengetahuan orisinil yang sama sekali baru.

Peradaban Yunani, Persia dan Romawi jelas menyumbangkan peradaban yang sangat berharga bagi Islam. Peradaban Zoroastrian (Sassanian) telah mencapai puncak renaisan kebudayaannya pada abad ke enam, sebelum Islam datang di tanah Arab. Hal ini yang kemudian menjadi pembawa obor bagi peradaban Barat, bersama-sama membawa sebuah sinkronisme kreatif baru pemikiran ilmiah dan filosofis Yunani, Hebrew, India (Hindu), Syirian, dan Zoroaster.

Pusat urat syarafnya berada di akademi terbesar pada masa itu, yaitu Akademi Jundi Shapur, di Persia bagian Tenggara. Bahkan bukan itu saja, setelah lahirnya Islam dan penaklukan Persia oleh orang-orang Arab, perkembangan kebudayaan terpenting dalam Islam, misalnya bidang sains, teknologi, matematika, logika, filsafat, kimia, musik, etika, geografi, bahkan teologi dan sastra, adalah kontribusi pemikir dan cendikiawan Persia yang pada permulaan Abad-abad Islam telah menulis dalam bahasa Arab dan atas nama Islam.

Filsafat Islam memiliki karakteristik sekaligus sebagai keunikan tersendiri. Setidaknya, terdapat tiga karakteristik yang dapat kita diketemukan dalam khazanah ini, yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ketiga karakteristik tersebut sudah sering dikaji oleh para sarjana muslim.

Filsafat peripatetisme adalah paham kelanjutan dari pengaruh ide-ide Aristotelian yang bersifat diskursif-demontrasional. Corak dari Aristotelian yaitu hylomorfisme, suatu paham yang cenderung bersifat material. Peripatetisme dimulai sejak al-Kindi, yang melewati antara lain, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Thufail dan Ibn Bajjah hingga Ibn Rusyd. Mungkin, hanya Ibn Rusyd saja yang agak berani membersihkan Aristotelianisme dari Neo-Platonisme.Filsafat iluminasi (Israqiyyah) berbicara mengenai suatu kilatan-mendadak dalam bentuk pemahaman atau ilham sebagai suatu arus cahaya. Asal mulanya, teori ini berakar dari pola-pola Platonik, yang selama periode Hellenistik dan Romawi aliran ini diserap dan tergabungkan dalam pikiran Kristiani dan Yahudi.

Tokoh yang ternama dalam corak filsafat iluminasi yaitu Surawardi. Sebagai pencetus paham iluminasi, dia telah membuka jalan suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya-upaya religius atau mistis dalam dunia ilmiah. Dia juga termasuk filosof yang meyakini adanya perennial wisdom. Sebuah jalan kebenaran yang dijadikan ukuran adalah pengalaman “intuitif” yang kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis-rasional.

Sementara filsafat hikmah di perkenalkan oleh Mulla Shadra. Dia membangun aliran baru filsafat dengan semangat untuk mempertemukan berbagai aliran pemikiran yang berkembang di kalangan kaum muslim. Yakni tradisi Aristotelian cum Neo platonis yang diwakili figur-figur al-Farabi dan Ibn Sina, filsafat Israqiyyah, pemikiran Irfani Ibn ‘Arabi, serta tradisi kalam (teologi dialektis).

Filsafat hikmah cenderung berbicara masalah esensi (wujud), sehingga sering disebut-sebut sebagai eksistensialisme Islam. Aliran ini mempercayai bahwa pengetahuan diperoleh tidak melalui penalaran rasional, tetapi hanya melalui sejenis intuisi, yakni penyaksian bathin (syuhud, inner witnessing), cita rasa (dzauq, tasting), pencerahan (hudhur, presence).

Menurut Muthahhari, seorang pengagum Mulla Shadra yang juga menulis buku tentang “Filsafat Hikmah; Pengantar Pemikiran Mulla Shadra” mengakui bahwa Filsafat Hikmah (Hikmat Muta`aliyah) berupaya memadukan metode-metode wawasan spiritual dengan metode-metode deduksi filosofis. Untuk mencapai kebenaran yang hakiki, harus melebur metode-metode pencerah (illumination) ruhani dan perenungan intelektual. Seperti yang dikemukakan Baqir dalam buku ini, bahwa Filsafat Hikmah berusaha menyatukan empat aliran yang berbeda-beda. Melalui filsafat hikmat ini menawarkan sebuah jalan keluar yang sangat argumentatif.

Haidar Bagir sebagaimana yang diulas pada karya di atas, id berusaha memotret secara gamblang babakan kronologis sejarah filsafat Islam dan aliran-alirannya. Tak hanya itu, dia juga menghadirkan bahwa filsafat Islam bukanlah “pengetahuan absurd”, tetapi ia memiliki manfaat yang begitu besar bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Filsafat Islam dapat menjadi diagnosis atas ragam persoalan kemanusiaan. Karena hakikat dari filsafat itu adalah menjawab dan memecahkan setiap problem manusiawi yang secara kodrati pasti tidak bisa lepas dari permasalahan.

Kehadiran filsafat, menurut Bagir, berpotensi untuk membantu penyelesaian problem-problem dasar kemanusiaan. Bahkan, dikatakan bahwa filsafat bisa menyelesaikan problem-problem konkret dalam kehidupan manusia. Mengingat, berbagai krisis yang tengah kita hadapi saat ini bermula dari—setidaknya berkorelasi dengan– krisis persepsi yang terjadi dibenak kita.

Dengan berpijak kembali kepada filsafat Islam, diharapkan bisa meretaskan pengetahuan dan kearifan religus yang bernilai tinggi. Akar-akar persoalan modernitas yang menyeret manusia ke dalam dunia “tanpa wajah” dapat disadarkan lewat penelusuran filsafat Islam. Atas dasar itulah filsafat perlu dihadirkan kembali sebagai sebuah cara pandang dunia di mata umat Islam.

 

  1. E.     Filosof-filosof islam
  2. 1.      Al-Kindi

Nama lengkapnya Abu Yusuf, Ya’kub bin Ishak Al-Sabbah bin Imran bin Al-Asha’ath bin Kays Al-Kindi. Beliau biasa disebut Ya’kub, lahir pada tahun 185 H (801 M) di Kufah. Al-Kindi mengarang buku-buku yang menganut keterangan Ibnu Al-Nadim buku yang ditulisnya berjumlah 241 dalam bidang filsafat, logika, arithmatika, astronomi, kedokteran, ilmu jiwa, politik, optika, musik, matematika dan sebagainya. Dari karangan-karangannya, dapat kita ketahui bahwa Al-Kindi termasuk penganut aliran Eklektisisme; dalam metafisika dan kosmologi mengambil pendapat Aristoteles, dalam psikologi mengambil pendapat Plato, dalam hal etika mengambil pendapat Socrates dan Plato. Mengenai filsafat dan agama, Al-Kindi berusaha mempertemukan amtara kedua hal ini; Filsafat dan agama. Al-Kindi berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu tentang kebenaran atau ilmu yang paling mulia dan paling tinggi martabatnya. Dan agama juga merupakan ilmu mengenai kebenaran, akan tetapi keduanya memiliki perbedaan.

  1. 2.      Al-Farabi

Ia adalah Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tharkhan. Sebutan Al-Farabi diambil dari nama kota Farab, dimana ia dilahirkan pada tahun 257 H (870 M). Ayahnya adalah seorang Iran dan kawin dengan seorang wanita Turkestan. Kemudian ia menjadi perwira tentara Turkestan. Karena itu, Al-Farabi dikatakan berasal dari keturunan Turkestan dan kadang-kadang juga dikatakan dari keturunan Iran. Sebagian besar karangan-karangan Al-Farabi terdiri dari ulasan dan penjelasan terhadap filsafat Aristoteles, Plato, dan Galenius, dalam bidang-bidang logika, fisika, etika, dan metafisika. Meskipun banyak tokoh filsafat yang diulas pikirannya, namun ia lebih terkenal sebagai pengulas Aristoteles.

  1. 3.      Ibnu Sina

Ibnu Sina dilahirkan dalam masa kekacauan, dimana Khilafah Abbasiyah mengalami kemunduran, dan negeri-negeri yang mula-mula berada di bawah kekuasaan khilafah tersebut mulai melepaskan diri satu persatu untuk berdiri sendiri. Kota Baghdad sendiri, sebagai pusat pemerintahan Khilafah Abbasiyah, dikuasai oleh golongan Bani Buwaih pada tahun 334 H dan kekuasaan mereka berlangsung terus sampai tahun 447 H. Pengaruh Ibnu Sina dalam soal kejiwaan tidak dapat diremehkan, baik pada dunia piker Arab sejak abad kesepuluh Masehi sampai akhir abad ke-19 Masehi, terutama pada Gundissalinus, Albert the Great, Thomas Aquinas, Roger Bacon, dan Dun Scott. Bahkan juga ada pertaliannya dengan pikiran-pikiran Descartes tentang hakikat jiwa dan wujudnya.

  1. 4.      Al-Ghazali

Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Kata-kata al-Ghazali kadang-kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua z). dengan menduakalikan z, kata-kata al-Ghazzali diambil dari kata-kata Ghazzal, artinya tukang pemintal benang, karena pekerjaan ayahnya ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata Ghazalah, nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini yang banyak dipakai. Al-Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya, dan mempunyai nafas panjang dalam karangan-karangannya. Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan ilmu, antara lain Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak dan adab kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku tersebut diatas dalam bahasa Arab dan yang lain ditulisnya dalam bahasa Persia.

  1. 5.      Ibnu Bajah

Ia adalah Abubakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibnus-Shaigh atau Ibnu Bajah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu Bajah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu Gaberol, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan nama Avicenna, Avicebron, Abubacer, dan Averroes.

  1. 6.      Ibnu Thufail

Ia adalah Abubakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, dilahirkan di Wadi Asy dekat Granada, pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan ilmiahnya meliputi kedokteran, kesusasteraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter di kota tersbut dan berulangkali menjadi penulis penguasa negerinya. Setelah terkenal, ia menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub Yusuf al-Mansur, khalifah kedua daru daulah Muwahhidin. Dari al-Mansur ia memperoleh kedudukan yang tinggi dan dapat mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana Khalifah itu, di antaranya ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas buku-buku karangan Aristoteles. Buku-buku biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail yang menyangkut beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan sebagainya, disamping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd.

  1. 7.      Ibnu Rusyd

Nama lengkapnya Abul Walid Muhammad bin Ahmad bin Rusyd, lahir di Cordova pada tahun 520 H. Ia berasal dari kalangan keluarga besar yang terkenal dengan keutamaan dan mempunyai kedudukan tinggi di Andalusia (Spanyol). Ayahnya adalah seorang hakim, dan kakeknya yang terkenal dengan sebutan “Ibnu Rusyd kakek” (al-Jadd) adalah kepala hakim di Cordova. Ibnu Rusyd adalah seorang ulama besar dan pengulas yang dalam terhadap filsafat Aristoteles. Kegemarannya terhadap ilmu sukar dicari bandingannya, karena menurut riwayat, sejak kecil sampai tuanya ia tidak pernah terputus membaca dan menelaah kitab, kecuali pada malam ayahnya meninggal dan dalam perkawinan dirinya. Karangannya meliputi berbagai ilmu, seperti: fiqih, ushul, bahasa, kedokteran, astronomi, politik, akhlak, dan filsafat. Tidak kurang dari sepuluh ribu lembar yang telah ditulisnya. 

 

  1. a.      Kesimpulan

Filsafat Islam tidaklah sama dengan filsafat Yunani. Akar filsafat Islam adalah al-Qur’an dan al-Hadits, yang memang telah menyediakan konsep-konsep filosofis dalam membentuk tradisi intlektual Islam. Hanya saja konsep-konsep itu belum diberi nama falfasah, tetapi dikenal dengan istilah hikmah. Setelah adanya pertemuan dengan tradisi Yunani maka istilah hikmah kemudian tergantikan oleh istilah falsafah atau kemudian dikenal dengan filsafat Islam. Jadi, sekali lagi asal-usul filsafat Islam bukan berasal dari Yunani tetapi berasal dari tradisi intelektual Islam sendiri. Wallohu A’lam Bish Showab.

Filsafat Islam, adalah berfikir secara sistematis, radikal dan universal tentang hakikat segala sesuatu berdasarkan ajaran Islam. Singkatnya Filsafat Islam itu dalah Filsafat yang berorientasi pada Al Qur’an, mencari jawaban mengenai masalah-masalah asasi berdasarkan wahyu Allah.

Dengan berpijak kembali kepada filsafat Islam, diharapkan bisa meretaskan pengetahuan dan kearifan religus yang bernilai tinggi. Akar-akar persoalan modernitas yang menyeret manusia ke dalam dunia “tanpa wajah” dapat disadarkan lewat penelusuran filsafat Islam. Atas dasar itulah filsafat perlu dihadirkan kembali sebagai sebuah cara pandang dunia di mata umat Islam.

Tokoh-tokoh Filosof Islam :

  • Al-Kindi                                 
  • Ibnu Thufail                           
  • Al-Farabi                                
  • Al-Ghazali
  • Ibnu Bajah
  • Ibnu Rusyd
  • Ibnu Sina

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang, Jakarta : 1996Sudarsono, Ilmu Filsafat – Suatu Pengantar, Rineka Cipta, Jakarta : 2001

Hamid Fahmy Zarkasyi, “Re-orientasi Framework Kajian Filsafat Islam di Perguruan Tinggi Islam Indonesia” dalamJurnal ISLAMIA, Volume. 5, 2009

Madkur, Ibrahim.D r. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Bumi Aksara: Jakarta.

 

http://a2i3s-c0ol.blogspot.com/2009/01/hubungan-filsafat-islam-dengan-filsafat.html

http://annilasyiva.multiply.com/item/share/annilasyiva:journal:57?xurl=http%3A%2F%2Fannilasyiva.multiply.com%2Fjournal%2Fitem%2F57

http://forums.klikajadeh.net/showthread.php/16357-Filsafat-Islam?s=b0791c37a4bf3f31a643b80ddf9e7877&p=140473&viewfull=1#post140473

http://id.wikipedia.org/wiki/Filsafat#Filsafat_Islam

http://mcdens13.wordpress.com/

http://www.inpasonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=181:filsafat-islam-dalam-tinjauan-historis-bagian-1&catid=28:sejarah-peradaban-islam&Itemid=97#_edn6

http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=category&id=35&Itemid=210

 

  1. 1.      Alasan Indonesia menganut sistem ekonomi sosialis

Dalam kasus Indonesia, kapitalisme global telah menjadikan sistem ekonomi Indonesia mengarah pada spectrum kapitalistik karena besarnya pengaruh modal terhadapnya. Kondisi seperti ini terlihat pada ketiadaan kemandirian dengan tergantung pada utang luar negeri yang menyebabkan Indonesia harus tunduk pada pemilik modal. Oleh sebab itu Indonesia harus terus bebenah khususnya dalam system perekonomiannya. Dan dapat disimpulkan bahwa system ekonomi yang diterapkan di Indonesia sangat bergantung atau dipengaruhi oleh system politik yang tengah berkembang.

Sebagai akibat dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme (segala-galanya diatur oleh pemerintah). Etatisme, yaitu keikutsetaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan motovasi dan kreasi masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat. Jadi masyarakat hanya bersikap pasif saja

Tujuan yang hendak dicapai bukanlah sekedar mencetuskan suatu terobosan ekonomi melelui big push, melainkan juga untuk mendorong perkembangan masyarakat yang lebih menyeluruh artinya untuk mencapai demokrasi nasional yang kemudian akam menuju pembangunan tahap sosialisme. (Yahya Muhaimin, 1991) Dengan sistem ini, diharapkan akan membawa pada kemakmuran bersama dan persamaan dalam sosial, politik, dan ekonomi. Semua aktivitas ekonomi disentralisasikan di pusat pemerintahan sementara daerah merupakan kepanjangan dari pusat. Dan hal ini menunjukkan ciri khas dari sistem ekonomi sosialis dimana Sistem Ekonomi Sosialis merupakan sistem ekonomi yang seluruh kegiatan ekonominya direncanakan, dilaksanakan dan diawasi oleh pemerintah secara terpusat.  Contoh negara yang menganut sistem ekonomi ini adalah Kuba, Korea, Eropa Timur dan RRC.

(http://rudyminory.blogspot.com/2011/02/sistem-ekonomi-indonesia_21.html)

 

 

Bukti Indonesia menganut sistem ekonomi sosialis:

v  Penurunan Nilai Uang (Devaluasi)

dengan tujuan:

  • Guna membendung inflasi yang tetap tinggi
  • Untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat
  • Meningkatkan nilai rupiah sehingga rakyat kecil tidak dirugikan.

Maka pada tanggal 25 Agustus 1959 pemerintah mengumumkan keputusannya mengenai penuruan nilai uang (devaluasi), yaitu sebagai berikut.

  1. Uang kertas pecahan bernilai Rp. 500 menjadi Rp. 50
  2. Uang kertas pecahan bernilai Rp. 1.000 menjadi Rp. 100
  3. Pembekuan semua simpanan di bank yang melebihi Rp. 25.000

Tetapi usaha pemerintah tersebut tetap tidak mampu mengatasi kemerosotan ekonomi yang semakin jauh, terutama perbaikan dalam bidang moneter. Para pengusaha daerah di seluruh Indonesia tidak mematuhi sepenuhnya ketentuan keuangan tersebut. (http://dianae.blog.com/2011/03/09/sistem-ekonomi/)

 

v  Dekon dan Peraturan 1963

Pada bulan Maret 1963, dicanangkan Deklarasi Ekonomi (Dekon). Dimaksudkan untuk menguraikan metode yang hendak digunakan untuk melaksanakan Rencana Delapan Tahun. Menurut Dekon, pertumbuhan ekonomi akan terjadi dalam dua tahap yakni :

  1. Tahap pertama adalah penataan ekonomi yang sifatnya nasional dan demokratis serta bersih dari sisa peninggalan imperialisme dan feodalisme.
  2. Tahap Kedua adalah tahap pembangunan ekonomi sosialis Indonesia

Dekon mencerminkan maksud pemerintah untuk mengadakan perubahan yang radikal dalam kebijaksanaan ekonominya. Dekon memberi bimbingan positif untuk empat bidang yakni:

  1. Penentuan laju pertumbuhan ekonomi
  2. Peningkatan laju penanaman modal dalam negeri dan asing
  3. Pembukaan hubungan ekonomi internasional
  4. Penentuan kegiatan ekonomi sektor swasta, koperasi dan negara

Peraturan 26 Mei merupakan suatu program stabilisasi ekonomi yang dilaksanakan melalui empat belas peraturan untuk membendung inflasi. Mengandalkan mekanisme pasar dan harga-harga yang ditentukan melalui mekanisme tersebut. Merupakan upaya berani untuk menyeimbangkan anggaran nasional, menghapuskan banyak pengawasan harga, memberikan otonomi yang besar kepada perusahaan negara dan menyerahkan perusahaan kecil kepada pemerintah daerah. (Yahya Muhaimin,1991)

 

  1. 2.      Perkembangan Sosialisme Saat ini hubungannya dengan negara maju dan berkembang

Sosialisme adalah pandangan hidup dan ajaran kemasyarakatan tertentu, yang berhasrat menguasai sarana-sarana produksi serta pembagian hasil-hasil produksi secara merata. Sosialisme sebagai ideology politik adalah suatu keyakinan dan kepercayaan yang dianggap benar oleh para pengikutnya mengenai tatanan politik yang mencita-citakan terwujutnya kesejahteraan masyarakat secara merata melalui jalan evolusi, persuasi, konstitusional–parlementer , dan tanpa kekerasan.

Sosialisme sebagai ideology politik timbul dari keadaan yang kritis di bidang sosial, ekonomi dan politik akibat revousi industri. Adanya kemiskinan, kemelaratan ,kebodohan kaum buruh, maka sosialisme berjuang untuk mewujudkan kesejahteraan secara merata.

Dalam perkembangan sosialisme terdiri dari berbagai macam bentuk seperti sosialisme utopia, sosialisme ilmiah yang kemudian akan melahirkan berbagai aliran sesuai dengan nama pendirinya atau kelompok masyarakat pengikutnya seperti Marxisme-Leninisme,Febianisme dan Sosial Demokratis.

Pada permulaan tahun 1960 banyak diantara partai sosialis demokrat Eropa yang melepaskan dengan hubungan ikatan-ikatan idiology Marx. Mereka mengubah sikapnya terhadap hak milik privat dan tujuan mereka yang semula tentang hak milik kolektif secara total. Perhatian mereka curahkan terhadap upaya menyempurnakan ramuan pada perekonomian yang sudah menjadi ekonomi campuran. Akibatnya disfungsi antara sosialis dan negara kesejahteraan modern (The modern welfare state) kini dianggap orang sebagai perbedaan yang bersifat gradual.

Menurut Milton H Spencer sosialisme demokrasi modern merupakan suatu gerakan yang berupaya untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat melalui tindakan

(1)   memperkenalkan adanya hak milik privat atas alat-alat produksi

(2)   melaksanakan pemilikan oleh Negara (public ounership) hanya apabila hal tersebut diperlukan demi kepentingan masyarakat

(3)   mengandalkan diri secara maksimal atas perekonomian pasar dan membantunya dengan perencanaan guna mencapai sasaran sosial dan ekonomis yang diinginkan ( Winardi, 1986: 204).

Sosialisme dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada masyarakat bangsa yang memiliki tradisi demokrasi yang kuat. Sosialisme yang ada disetiap negara memiliki ciri khas sesuai dengan kondisi sejarahnya. Dalam sosialisme tidak ada garis sentralitas dan tidak bersifat internasional. (http://sejarahperjuangan.blogspot.com/2010/01/sosialisme-di-berbagai-negara.html)

 

v  Sosialisme di negara maju

Di negara-negara Barat (negara maju) sosialisme diartikan sebagai cara mendistribusikan kekayaan masyarakat secara lebih merata. Kepemilikan oleh masyarakat secara kolektif atas alat-alat produksi dan distribusi dasar, dioperasikan untuk digunakan bukan untuk mencari laba. Dalam pelaksanaannya, pemerintah sosialis di negara maju bervariasi dan cenderung tidak konsisten dengan doktrin. Salah satu contoh misalnya Singapura yang menurut bentuknya negara sosialis tetapi dalam kenyataannya adalah kapitalis agresif.

Di Eropa, partai sosialis berkuasa di berbagai negara termasuk di Inggris, Prancis, Spanyol, Yunani, dan Jerman. Di Inggris, partai buruh sebagai partai politik pada waktu lalu, menasionalisasi beberapa industri dasar seperti baja, pembuatan kapal, tambang batu bara dan perusahaan kereta api walaupun tidak terlalu jauh bergerak ke arah itu. Sosial Demokrat adalah nama yang diberikan orang Jerman untuk partai politik sosialis mereka. Pemerintah sosialis Prancis dan Spanyol pun telah meluncurkan program privatisasi perusahaan milik pemerintah. Program-program ini tidak sesuai dengan doktrin sosialis yang murni. Sedangkan sosialis di negara berkembang pada umumnya melaksanakan sosialisme pada tingkat-tingkat tertentu. Pemerintah biasanya memiliki dan mengendalikan hampir semua faktor-faktor produksi. Kekurangan modal, teknologi, manajemen yang terlatih dan buruh yang terampil adalah karakteristik negara berkembang, dan negara maju atau organisasi internasional sering memberikan bantuan melalui pemerintah negara berkembang.

(http://sejarahperjuangan.blogspot.com/2010/01/sosialisme-di-berbagai-negara.html)

 

v  Sosialisme di negara berkembang

Negara-negara miskin berhasrat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang cepat. Dari segi kepentingan dalam negeri pertumbuhan ekonomi yang tinggi merupakan satu-satunya cara untuk mencapai srtandart hidup, kesehatan dan pendidikan yang lebih baik. Ada dua cara untuk mencapai pembangunan ekonomi yang pesat:

  1. Menggunakan cara yang telah digunakan oleh Negara Barat (maju), pasar bebas merupakan alat utama untuk menunjang pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
  2. Komunisme, dalam metode ini Negara memiliki alat-alat produksi dan menetapkan tujuan yang menyeluruh. Dalam menghadapi masalah modernisasi ekonomi Negara-negara berkembang pada umumnya tidak mau meniru proses pembangunan kapitalis Barat atau jalur pembangunan komunisme. Mereka menetapkan sendiri cara-cara yang sesuai dengan kondisi masing-masing Negara.
  3. Sosialisme. Dalam konteks negara terbelakang/berkembang sosialisme mengandung banyak arti pertama di dunia yang sedang berkembang sosialisme berarti cita-cita keadilan sosial . Kedua istilah sosialisme di Negara-negara berkembang sering berarti persaudaraan, kemanusiaan dan perdamaian dunia yang berlandaskan hukum. Arti Ketiga sosialisme di Negara berkembang ialah komitmen pada perancangan ( Willan Ebenstein,1994: 248-249)

Melihat tersebut di atas arti sosialisme pada negara berkembang dengan Negara yang lebih makmur karena perbedaan situasi histories. Di dunia Barat sosialisme tidak diartikan sebagai cara mengindustrialisasikan Negara yang belum maju, tetapi cara mendistribusikan kekayaan masyarakat secara lebih merata. Sebaliknya, sosialisme di Negara berkembang dimaksudkan untuk membangun suatu perekonomian industri dengan tujuan menaikkan tingkat ekonomi dan pendidikan masa rakyat, maka sosialisme di negara Barat pada umumnya berkembang dengan sangat baik dalam kerangka pemerintahan yang mantap (seperti di Inggris dan Skandinavia), sedangkan di Negara berkembang sosialisme sering berjalan dengan beban tardisi pemerintahan yang otoriter oleh kekuatan imperialism asing atau oleh penguasa setempat. Karena itu ada dugaan sosialisme di Negara berkembang menunjukkan toleransi yang lebih besar terhadap praktek otoriter dibandingkan dengan dengan yang terjadi sosialisme di Negara Barat. Kalau Negara-negara berkembang gagal dalam usahanya mensintesakan pemerintahan yang konstitusional dan perencanaan ekonomi ,maka mereka menganggap bahwa pemerintahan konstitusional dapat dikorbankan demi memperjuangkan pembangunan ekonomi yang pesat melalui perencanaan dan pemilikanindustri oleh Negara. (http://www.scribd.com/doc/51585607/SOSIALISME)

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Sumber Buku :

Muhaimin, Yahya A. Bisnis dan politik: kebijaksanaan ekonomi Indonesia, 1950-1980. Jakarta: LP3ES

Sumber Internet :

http://www.scribd.com/doc/51585607/SOSIALISME

http://dianae.blog.com/2011/03/09/sistem-ekonomi/

http://galihpangestu14.wordpress.com/2011/02/22/sejarah-sistem-perekonomian-indonesia/

http://rudyminory.blogspot.com/2011/02/sistem-ekonomi-indonesia_21.html

http://sejarahperjuangan.blogspot.com/2010/01/sosialisme-di-berbagai-negara.html

 

 

 

 

 

 

PERADABAN YUNANI DAN ROMAWI KUNO

A. YUNANI KUNO
Yunani terletak diujung tenggara Benua Eropa. Sebagian besar kepulauan di Laut Aegea dan Laut Ionia masuk wilayah Yunani. Bangsa Yunani terbentuk dari percampuran bangsa pendatang dari laut Kaspia dan dan penduduk asli yang terdiri dari petani. Mereka membentuk suatu kelompok – kelompok kota yang disebut Polis. Polis-polis yang terkenal adalah : Athena, Sparta dan Thebe.
Polis-polis yang terkemuka di Yunani :
1. Polis Athena memimpin Yunani dari tahun 450-404 SM, pada masa ini kehidupan dalam masyarakat demokratis, bebas berpikir dan berkarya. Dan muncul filosof-filosof besar yang terkenal : Socrates.
2. Polis Sparta, memerintah Yunani dari tahun 404 SM. Bangsa Sparta memerintah secara Militer dan kekerasan. Pada masa ini ilmu tidak berkembang.
3. Polis Thebe memerintah Yunani 371 SMolis Thebe berhasil mengalahkan polis SpartaAnatara polis-polis ini selalu berperang sehingga akhirnya Yunani pun menjadi lemah.Yunani berhasil dikuasai oleh Filipus Raja Macedonia pada tahun 338 – 336 SM.
Letak geografis
Letak geografis Yunani sekarang sama dengan Yunani kuno yang kita bahas. Yunani terletak di Ujung Selatan Semenanjung Balkan. Selain di daratan tersebut wilayahnya juga meliputi pulau di Laut Aegeia. Batas-batas Yunani sekarang ini : utara berbatasan dengan Albania, Macedonia, Bulgaria dan Turki, timur adalah Laut Aegeia, selatan adalah Laut Tengah, dan barat adalah Laut Ionia.
Sebagian besar wilayah Yunani bergunung-gunung sehingga antar wilayah terpisah antara satu dengan yang lain. Tiga puluh prosen daerahnya berupa daratan rendah yang terdapat di dekat laut dan terbentuk oleh endapan lumpur sungai. Sisanya berupa jazirah yaitu Peloponesos dan Attica. Gunung-gunung dan teluk-teluk di Yunani yang tak terhitung banyaknya pada waktu itu menghalangi komunikasi melalui darat. Lembah-lembah dan daratan rendah yang terpisah-pisah merupakan unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami, dan menjadi pemisah kesatuan unit politik. Kesatuan politik itu disebut Polis atau Negara Kota (City State) yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah sekitarnya. Tanah Yunani yang bergunung-gunung pada umumnya kurang subur.
Di lereng pegunungan masyarakat dapat menanam gandum serta anggur. Untuk mencari daerah yang subur maka para petani (disebut Colonus) meninggalkan negerinya dan mendirikan daerah koloni di sekitar Yunani. Daerah koloni Yunani antara lain terdapat di Italia Selatan, Mesir, Palestina dan Asia Kecil (Turki sekarang). Selain kegiatan pertanian, masyarakat Yunani juga mengembangkan perekonomian melalui kegiatan pelayaran dan perdagangan karena letaknya yang strategis di perairan Laut Tengah.

B. ROMAWI KUNO
Romawi Kuno adalah sebuah peradaban yang tumbuh dari negara-kota Roma didirikan di Semenanjung Italia di sekitar abad ke-9 SM. Selama keberadaanya selama 12 abad, kebudayaan Romawi berubah dari sebuah monarki ke sebuah republik oligarki sampai kekekaisaran yang luas. Dia datang untuk mendominasi Eropa Baratdan wilayah sekitar di sekitar Laut Tengah melalui penaklukan danasimilasi. Namun beberapa faktor menyebabkan kemerosotannya. Sebelah barat kekaisaran, termasuk Hispania, Gaul, dan Italia, akhirnya pecah menjadi kerajaan merdeka pada abad ke-5; kekaisaran timur, diatur dari Konstantinopel, disebut sebagai Kekaisaran Romawi Timur setelah tahun 476, tanggal tradisional “kejatuhan Romawi” dan kelanjutannya Zaman Pertengahan.
Romawi ialah peradaban dunia yang letaknya terpusat di kota Roma masa kini. Peradaban Romawi dikembangkan Suku Latia yang menetap di lembah Sungai Tiber. Suku Latia menamakan tempat tinggal mereka ‘Latium’. Latium merupakan kawasan lembah pegunungan yang tanahnya baik untuk pertanian. Penduduk Latium kemudian disebut bangsa Latin. Pada mulanya, di daerah Latium inilah bangsa Latin hidup dan berkembang serta menghasilkan peradaban yang tinggi nilainya. Kota Roma yang menjadi pusat kebudayaan mereka terletak di muara sungai Tiber. Waktu berdirinya Kota Roma yang yang terletak di lembah Sungai Tiber tidak diketahui secara pasti. Legenda menyebut bahwa Roma didirikan dua bersaudara keturunan Aenas dari Yunani, Remus dan Romulus.
Peradaban Romawi seringkali dikelompokan sebagai “klasik antik” bersama dengan Yunani kuno, sebuah peradaban yang menginspirasikan banyak budaya Romawi Kuno. Romawi Kuno menyumbangkan banyak kepada pengembangan hukum, perang, seni, literatur, arsitektur, dan bahasa dalam dunia Barat, dan sejarahnya terus memiliki pengaruh besar dalam dunia sekarang ini.
Bangsa Romawi yang semula petani, setelah mengalahkan penguasa Etruskia kemudian menjadi bangsa penguasa besar dengan manaklukan wilayah yang luas sampai ke Laut Tengah. Bangsa yang semula petani ini kemudian menjadi masyarakat kapitalis dan materialis. Selain sebagai bangsa yang suka dengan perang bangsa Romawi juga mengumpulkan kekayaan sebagai modal usaha. Mereka membali ladang-ladang dan kemudian penggarapannya dilakukan oleh para budak yang didatangkan dari daerah-daerah jajahan.
Letak Geografis
Romawi merupakan tempat kuno di Eropa yang menjadi sumber kebudayaan Barat. Terletak di Semenanjung Apenina (sekarang Italia). Batas-batasnya adalah :
• Sebelah Utara semenanjung Apenina bersambung dengan daratan Eropa yang terdapat pegunungan Alpen sebagi batas alam yang memanjang.
• Sebelah Barat Laut yang memisahkan Italia dengan Perancis.
• Sebelah Utara memisahkan Italia dengan Swiss dan Austria.
• Sebelah Timur Laut dengan Yugoslavia.
Kadaan alam
• Romawi terletak di Semenanjung Apenina (Italia)
• Semenanjung Apenina terbagi menjadi 2 daratan.
• Semenanjung Italia memiliki garis pantai yang panjang yaitu 2000 mil.
• Kebudayaan yang berkembang adalah kebudayaan laut (sebagian besar penduduknya bermata pencaharian pedagang dan nelayan)
Perkembangan Romawi
• Bangsa Romawi = percampuran antara bangsa Latin dan bangsa Etruska.
• Bangsa Etruska mendirikan polis (Negara kota) jumlah = 17 buah (salah satunya polis Romawi).
• Polis Romawi pada awalnya hanya meliputi kota Roma. Menurut cerita lama, Kota Roma didirikan oleh Romus dan Romulus tahun 753 SM.
• Pada awalnya pemerintahan dipegang oleh seorang raja tetapi tahun 510 terjadi pemberontakan, dan diubah menjadi republik.

C. GEOGRAFI SEJARAH YUNANI
Orang Yunani tinggal jazirah Balkan yang paling ujung yang menjorok ke laut. Secara geografis yunani mewujudkan suatu keutuhan dengan ciri-ciri alami yang lain dibandingkan dengan daerah balkan lainnya. Daerah yunani dari utara sampai ke selatan dipenuhi dengan pernukitan batu kapur. Banyak pantai-pantai yang berkelok-kelok mengakibatkan banyaknya teluk dengan pelabuhan-pelabuahan alam yang baik untuk pelayaran dan perniagaan. Kebanyakan penduduk yunani hidup di daerah penggiran pantai karena miskinnya daerah perdalaman yang penuh bebatuan sehingga tanaman jarang yang tumbuh.
Wilayah Yunani memiliki keadaan alam yang cukup unik, beragam dan kontras, antara daratan dengan lautan yang mengelilinginya, pegunungan yang ganas dan dingin di satu sisi dengan lembah-lembah sungai yang subur dan senantiasa disinari matahari di sisi lainnya. Kondisi alamnya dikenal tidak mempunyai kekayaan yang melimpah. Keadaan alam inilah yang kemudian diperkirakan membentuk masyarakat dengan perbedaan watak yang beragam dan kontras pula.
Ada beberapa keuntungan negeri Yunani mengarah ke Mediterian, diantaranya perkembangan peradaban terlebih dahulu muncul di daerah Asia, di sana telah ada pelabuhan-pelabuhan dagang yang ramai, sehingga penduduk Yunani bisa berinteraksi dengan penduduk yang ada di sekitar mediterian. Di tambah alam geografinya, telah memunculkan berbagai Kesatuan politik yang disebut Polis dan Negara Kota (City State) yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah sekitarnya polis yang lokasinya terpisah satu sama lainnya. Isolasi seperti itu lebih memudahkan perkembangan peradaban kota-kota yang tidak banyak terganggu oleh serbuan musuh dari luar maupu dari dalam.
Sejarah Yunani banyak dipengaruhi sifat-sifat gunung yang ada di wilayah semenanjung Balkan. Yunani dibatasi oleh deretan pegunungan dari jazirah Balkan ; fungsinya mengamankannya dari serbuan musuh dari luar. Puncak yang tertinggi bernama olimpus yang oleh orang yunani kuno dipandang sebagai tempat para dewa mereka. Gunung-gunung dan teluk-teluk di Yunani yang tak terhitung banyaknya pada waktu itu menghalangi komunikasi melalui darat. Lembah-lembah dan daratan rendah yang terpisah-pisah merupakan unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami, dan menjadi pemisah kesatuan unit politik.
Struktur Geografis Yunani adalah kompleks dan sangat beragam. Di wilayah yang kecil dan ditambah berpulau-pulau ini daerah satu dengan yang lain dipisahkan oleh gunung kapur, lembah curam atau selat. Keadaan geografis seperti ini berbeda dengan Mesir atau Mesopotamia yang relatif terbuka dan datar bergurun pasir yang secara militer menguntungkan untuk kontrol dari Pusat. Dengan keadaan yang terpisah-pisah itu maka setiap tempat (topos) menjadi istimewa, punya karakter, punya genius atau spirit, dan spirit itu dianggap menghasilkan tatanannya sendiri, yang pada gilirannya nanti dipersonifikasikan sebagai dewa-dewa yang menguasai tempat itu. Kepercayaa Yunani mengenal banyak dewa yang berhimpun menjadi sebuah keluarga, kumpulan itu disebut sebagai Pantheon ( “Pan” = perhimpunan, “theon” = dewa). Gagasan pantheon ini sebenarnya adalah gagasan politis untuk menyatukan daerah-daerah yang amat beragam tadi menjadi sebuah kerajaan besar di bawah Alexander.
Penduduk Yunani sangat giat berkerja, hal ini dipengaruhi oleh suasana alam yang indah pada musim panas yang disebabkan oleh angin yang bertiup dari negeri Rusia, sebaliknya udara pada musim panas sangat kering di negerinya. Ditambah lagi adanya tambang emas dan besi yang menawarkan cukup pekerjaan sebagai pengganti dari ketandusan tanah yang selit untuk pertanian dan perkebunan. Selain kegiatan pertanian, masyarakat Yunani juga mengembangkan perekonomian melalui kegiatan pelayaran dan perdagangan karena letaknya yang strategis di perairan Laut Tengah. Ketandusan tanah yang dimiliki bangsa Yunani telah mengilhami mereka untuk berlayar dan kolonis di berbagai dunia kuno di laut tengah. Dengan demikian, penduduk yunani banyak memperoleh pengetahuan dari daerah-daerah yang ia kunjungi disekitar mediterian, sehingga dapat dikatakan “ alamnya telah memberi rangsangan untuk menjadikan mereka ahli-ahli pikir yang paling subur di dunia Barat Kuno.
Keadaan alam memiliki andil yang tidak kecil dalam pembentukan peradaban Yunani. Keadaan geografis ini juga mempermudah adanya desentralisasi politik. Gunung-gunung dan teluk-teluk di Yunani yang tak terhitung banyaknya menghalangi komunikasi melalui darat. Lembah-lembah dan dataran-dataran rendah yang terpisah-pisah merupakan unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami. Juga merupakan pemisah kesatuan unit politik yang disebut “polis” atau negara kota, yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah sekitarnya.
Meskipun orang Yunani harus hidup dalam berbagai kesulitan alam, tetapi mereka tidak tercepit dan hidup celaka. Dengan keadaan seperti itulah penduduk Yunani bisa mengarungi lautan Tengah. Dengan alam seperti itu, penduduk Yunani telah menguasai wilayah yang ada di sekitar laut Tengah dan melakukan kolonialisasi, menjual hasil tambang dan hasil lautnya dan “mengimpor” segala kebutuhannya seperti makanan pokok atau segala yang berhubungan dengan pertanian yang tidak bisa tumbuh di negrinya.
Tanah Yunani yang bergunung-gunung pada umumnya kurang subur. Di lereng pegunungan masyarakat dapat menanam gandum serta anggur. Untuk mencari daerah yang subur maka para petani (disebut Colonus) meninggalkan negerinya dan mendirikan daerah koloni di sekitar Yunani. Daerah koloni Yunani antara lain terdapat di Italia Selatan, Mesir, Palestina dan Asia Kecil (Turki sekarang). Dari kegiatan tersebut muncullah istilah kolonialisme. Antar kaum kolonis dengan negeri induknya tetap terjalin hubungan.

D. GEOGRAFI SEJARAH ROMAWI
Induk kerajaan Romawi ialah Italia sekarang yang menempati jazirah Apenina, bersama pulau Sisilia, jazirah tersebut terbentuk seperti kaki yang meyipak bola. Secara geografis keduanya mewujudkan jembatan terputus yang membujur utara-selatan dan membagi laut tengah atas dua bagian barat dan bagian timur.
Kondisi alam Romawi ( Italia ) secara geologis mirip dengan kondisi alam Yunani. Hal ini di lihat dari banyaknya pegunungan. Pegunungan yang ada pada masing-masing daerah memiliki fungsi yang sama sebagai pelindung dari serangan musuh dari luar, tapi di utara Romawi terdapat lembah dan sungai yang menghubungi daerahnya dengan Eropa tengah.
Tanah di sepanjang jazirah apenina tak sekering dan segundul tanah di negeri Yunani. Tepi pantainya berhutan lebat dan perumputan untuk ternak sejak zaman kuno. Sungai Tiber yang berada di tengah-tengah Italia membentuk lembah di mana kota Roma dapat berkembang dengan baik dan disanalah kemudian berkembang peradaban bangsa Latin.
Di bandingkan dengan negeri Yunani, pantai-pantai di Italia tidak mempunyai pelabuhan akan tetapi pantai-pantai baratnya memiliki banyak teluk yang baik untuk pendaratan kapal-kapal layar di zaman kuno. Lemboh po yang ada di timur laut negeri pun memiliki pelabuhan yang ramai perdagangannya dengan pantai-pantai barat Yunani.
Dari uraian sifat-sifat geografis Italia di atas, telah menentukan jalannya sejarah bangsa Romawi dari zaman ke zaman. Di Italia utara dapat dimasuki bangsa-bangsa yang berasal dari Eropa tengah dan pantai timur berlabuhlah para imigran Yunani dan Asia Kecil. Orang-orang Italia awal terdiri dari banyak suku yang masing-masing mempunyai bahasa dan kebudayaan sendiri. Pemukim yang paling awal adalah Suku Liguria kemudian berdatangan Suku Umbria, Latin dan Samnite yang kemungkinan berasal dari EropaTengah. Setelah itu datanglah Suku Etruska dari Asia Kecil lalu orang-orang Kartago dan Yunani yang mendirikan koloninya di Italia Selatan. Iklim yang baik untuk tetumbuhan yang hijau sepanjang tahun menjadikan penduduk Italia sebagai pengembala dan petani yang makmur.
Orang Romawi senang menciptakan sesuatu secara besar-besaran karena mereka suka sesuatu yang megah, mewah, dan monumental, serta menarik perhatian. Semua hasil karya budaya terutama karya seni rupa, baik berupa seni bangunan, seni patung atau relief, maupun seni lukisnya dibuat serba besar, megah, dan penuh hiasan. Orang-orang Romawi menciptakan karya teknik bangunan yang menggumkan, seperti bangunan saluran air , jembatan, gedung besar untuk balai pertemuan dan pasar, bangunan untuk olahraga dan pentas seni (thermen, theater, amphitheater). Selain bangunan diatas, juga terdapat banguan kuil untuk persemayam dewa. Orang Romawi melanjutkan pengetahuan orang Yunani antara lain bangunan dengan kontruksi lengkung untuk membuat ruangan-ruangan menjadi luas.
Lokasi jazirah Apenina yang melintang di bagian tangah laut tengah sebenarnya bukan jaminan bahwa penduduk di situ mengerti pentingnya lautan untuk berdagang dan strategi perluasan wilayah. Sebelum pembauran antara orang Romawi dengan orang Yunani, tidak ada keinginan bagi orang Romawi terhadap perniagaan laut di karenakan jalur ke Eropa Tengah sangat terbuka lebar ditambah lagi pengetahuan tentang kelautan yang belum memadai pada saat itu. Kesadaran itu baru tumbuh setelah banyaknya kekalahan yang terjadi dan hilangnya daerah kekuasaan bagian selatan yang direbut oleh orang-orang Kartago dan yunani yang menyerang dari laut.
Kesadaran itu membuat orang Romawi terdorong untuk melakukan ekspansi ke daerah lain. Daerah yang harus dikuasai terlebih dahulu sebelum menguasai lautan tengah ialah yunani di italia bagian selatan dan selatan jazirah Balkan. Di dalam wilayah Yunani, perperangan antar polis marak-maraknya terjadi sehingga penguasa yunani meminta bantuan kepada raja Seleucid di Asia ( Macedonia ). Politik yang dipakai oleh orang romawi ialah mendamaikan pereperangan antar polis, sehingga yunani dapat dikuasai pada abad ke-2 SM.
Sambil berekspansi ke luar daerah, kerajaan romawi juga belajar dari hal-hal yang dirasa baik dari daerah-daerah yang dikuasainya. Seperti penerapan sistem polis di Roma. Meskipun alam di Romawi tidak seperti di Yunani yang berbukit-bukit, tetapi penerapan itu dapat berlansung selama dua abad setelah penaklukan Yunani. Kemudian tatanan pemerintahan ini juga diterapkan di wilayah jajahannya yang ada di Eropa.

E. NEGARA KOTA (CITY – STATE)
Jika peradaban kuno di Asia dan Afrika memiliki pola umum yaitu merupakan peradaban lembah sungai dengan kegiatan ekonomi yang utama adalah pertanian (agraris) maka peradaban Yunani maupun Romawi sebagai akar budaya peradaban Eropa menyimpang dari pola umum. Di Yunani dan Romawi lembah-lembah dan daratan rendah yang terpisah-pisah merupakan unit-unit geografis dan ekonomi yang bersifat alami, dan menjadi pemisah kesatuan unit politik. Kesatuan politik itu disebut Polis dan Negara Kota (City State) yang wilayahnya meliputi kota itu sendiri dan daerah-daerah sekitarnya.
Polis yang berkembang mula-mula di daratan Yunani adalah kota perdagangan Mycena (yang semula merupakan daerah koloni kerajaan Kreta). Kemudian berkembanglah ratusan polis di Yunani. Hubungan antar polis di Yunani antara lain dalam perdagangan maupun pertukaran ide/gagasan yang kemudian membentuk peradaban Yunani. Masyarakat Yunani bangga sebagai warga kota, mereka merasa Superior sedangkan yang tinggal di luar polis dianggap sebagai bangsa ”barbar”. Rasa Superior itu kemudian tampak pada masyarakat yang tinggal di polis-polis terkemuka Yunani antara lain Sparta dan Athena. Bangsa Yunani sulit bersatu karena antar polis saling bersaing untuk memperebutkan puncak kekuasaan. Namun pada saat menghadapi ancaman bangsa lain antara polis Sparta dan Athena dapat ”bersatu” sehingga memperoleh kemenangan.
Tempat dimana politik Yunani dijalankan disebut polis atau negara kota dan perkembangan yang paling besar ditemukan di Athena. Negara kota berbentuk persekutuan namun Yunani sendiri tidak pernah membentuk suatu unit politik selama periode klasik.politik baru muncul saat negara kota berada diambang kehancuran. Hal ini terjadi karena adanya beberapa peristiwa, seperti perselisihan internal antar warga negara, konflik eksternal antar kota yang berkepanjangan, dan serangan yang gencar dari kekuatan-kekuatan luar (pertama dari Macedonia dan kemudian dari Romawi). Orang-orang Yunani sangat berlebihan dalam hal politik.
Athena merupakan komunitas terbesar dengan luas wilayah kira-kira 1000 mil persegi atau sama dengan ½ bagian dari negara modern Delaware. Apabila suatu saat orang-orang ditugaskan untuk mejadi juri, kemudian duduk di lembaga legislatif, dan menempati fungsi sipil yang lain di kemudian hari maka hanya akan ada sedikit waktu yang produktif untuk bekerja. Sebagian besar dilakukan oleh para budak dan penduduk asing. Karena tanpa mereka sistem yang ada tidak akan mampu untuk memproduksi kelebihan yang dibutuhkan untuk membiayai para politisi. Namun mereka tidak diijinkan untuk memiliki lahan sendiri karena adanya sistem kewarganegaraan penuh.
Sedangkan Romawi merupakan peradaban dunia yang letaknya terpusat di kota Roma — masa kini. Peradaban Romawi dikembangkan Suku Latia yang menetap di lembah Sungai Tiber. Suku Latia menamakan tempat tinggal mereka ‘Latium’. Latium merupakan kawasan lembah pegunungan yang tanahnya baik untuk pertanian. Penduduk Latium kemudian disebut bangsa Latin. Pada mulanya, di daerah Latium inilah bangsa Latin hidup dan berkembang serta menghasilkan peradaban yang tinggi nilainya. Kota Roma yang menjadi pusat kebudayaan mereka terletak di muara sungai Tiber. Waktu berdirinya Kota Roma yang yang terletak di lembah Sungai Tiber tidak diketahui secara pasti. Legenda menyebut bahwa Roma didirikan dua bersaudara keturunan Aenas dari Yunani, Remus dan Romulus
Awalnya Romawi merupakan negara kota yang bersaing kekuatan dengan negara kota lainnya di semenanjung Italia. Romawi sedikit demi sedikit memperluas kekuasaan. Banyak perlawanan yang terjadi dalam perluasan dominion Romawi. Perluasan wilayah Romawi banyak dipengaruhi oleh pemikiran Yunani. Perluasan Romawi dengan perang dan penaklukan diikuti dengan dislokasi ekonomi antara pihak kaya dan miskin yaitu dengan beban pajak, kredit, menambah kekayaan pemilik tanah pada saat perang dan rekontruksi. Kekaisaran Romawi terbentuk dari sebuah komunitas pertanian kecil dengan perdagangan yang kecil dan strata sosial yang kaku. Tetapi kondisi geografi yang mendukung, kekayaan alam, kemenangan atas koloni sangat membantu transisi yang cepat dan komplek menuju periode kemakmuran.

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Peradaban Yunani dan Romawi merupakan fondasi kebudayaan Eropa (Barat). Jika peradaban Mesir adalah hadiah dari Sungai Nil, demikian pula Mesopotamia dari Sungai Efrat dan Tigris, maka peradaban Yunani dan Romawi adalah ‘pemberian’ dari lingkungan geografi di sekitar Laut Tengah. Wilayah ini merupakan dunia tersendiri, baik iklimnya yang khas (disebut iklim Laut Tengah) maupun tumbuh-tumbuhannya, berbeda dengan yanga ada di daerah lain. N. Daldjoni melukiskannya sebagai pulau di tengah-tengah Dunia Kuno. Pantai-pantainya berbatuan keras. Dalam musim dingin, Laut Tengah terkenal praharanya yang dahsyat. Meski demikian, lautan itu pernah berfungsi sebagai jalan raya dunia. Kondisi itulah yang melahirkan mental bangsa Yunani yang memposisikan dirinya tersendiri, tidak bergantung pada alam lingkungannya, sehingga berupaya keras berpikir dan berperilaku dalam upaya eksistensinya.
Situasi polis yang selalu saling menyerang (perang) menyebabkan pelatihan fisik (militer) menjadi fokus pembinaan, utamanya di Sparta dengan kebijakan wajib militernya. Sementara Athena lebih berfokus (bukan mengabaikan militer) pada dunia non-militer, utamanya soal kebudayaan. Walhasil, di polis yang terakhir ini terlahir sejumlah filsuf dan pemikir besar Yunani yang ‘abadi’. Di antara para pemikir itu ialah Socrates, Plato, dan Aristoteles yang banyak diperbincangkan ide-idenya sampai sekarang.
Wilayah Yunani dan wilayah Romawi merupakan wilayah yang memiliki kondisi alam ang berbeda meskipun memiliki kemiripan dalam beberapa hal. Wilayah Yunani yang gersang dan tandus yang sulit untuk bercocok tanam lebih mengutamakan hasil laut dan perdagangan sambil melakukan koloni di berbagai wilayah yang ada di sekitar laut Tengah.
Wilayah Romawi yang terkenal dengan lembah sungai po dan lembah campania yang memiliki curah hujan yang cukup untuk bertani membuat masyarakatnya lebih banyak tinggal dipedalaman. Hal ini juga di dukung kurangnya pengetahuan mereka terhadap dunia pelayaran sebelum kedatangan bangsa Yunani dan Kartago. Suburnya daerah yang ada di pedalaman membuat mereka lebih suka melakukan aktivitasnya di daratan karena hasil yang mereka kelola dari pertanian sudah lebih dari cukup untuk penhidupan pada masa itu.

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.