1. A.    Latar Belakang

Filsafat Sejarah Spekulatif merupakan suatu perenungan filsafat mengenai tabiat atau sifat-sifat gerak sejarah, sehingga diketahui srtruktur dalam yang terkandung dalam proses gerak sejarah dalam keseluruhannya. Cerita sejarah melukiskan sebagai segala sesuatu dengan bersahaja, yaitu tidak menyebut sebab-sebab mutlak atau sebab yang pasti. Hanya rangkaian peristiwa yang saling dihubungkan dengan menunjukkan sangkut-pautnya.

Soal obyektif-subyektif, soal serba tidak berat sebelah adalah soal dasar dalam ilmu sejarah. Masalah pendirian, sikap, merupakan masalah yang penting juga. Semuanya ditinjau dengan sepintas lalu saja. Titik berat masalah ini adalah: terjadinya cerita-cerita sejarah serta cara menghargainya.lmu sejarah menyelidiki arti dan tujuan sejarah, gerak sejarah, isi, bentuk, makna tafsiran sejarah.

Apakah sejarah atau kondisi-kondisi historis merupakan realitas objektif yang mandiri dari akal manusia, dari konsepsinya, dari tindakan-tindakannya, Ataukah ada suau determinisme sejarah yang paripurna dan memaksakan dirinya dari luar terhadap manusa dan manusia ini sendiri tidak mampu mengubahnya, Ataukah manusialah yang membuat sejarah dan men gendalikan perjalanannya, Kaum materialis mempercayai pendapat pertama. Mereka merujukkan segala perubahan historis pada kondisi-kondisi ekonomis dan bentuk serta sarana produksi dalam masyarakat. Lebih jauh lagi mereka menyatakan tentang adanya determinisme historis. Pendapat yang kedua dipegangi para filosof idealis yang menolak determinisme sejarah dan menyatakan bahwa manusialah yang menggerakkan sejarah.

a.      Pengertian Dasar Tentang Gerak Sejarah

Sejarah adalah sejarah manusia dimana peran, penulis sejarah, dan peminatnya hanya manusia saja. Maka manusialah yang harus dipandang sebagai inti sejarah. Oleh sebab itu dapat dipahami apabila masalah itu dipandang sebagai akibat daripada pendapat manusia tentang dirinya, yaitu :

  1. Manusia bebas menentukan nasib sendiri dengan istilah interpersional otonom.
  2. Manusia tidak bebas menentukan nasibnya atau manusia ditentukan oleh kekuatan diluar pribadinya. Atau disebut dengan manusia heterofaham bahwa manusia itu otonom dalam istilah filsafat disebut inderterminism dan faham heteronom disebut determinism.

Dari dua faham itu faham heteronom atau determinism adalah faham yang tertua. Menurut kepercayaan manusia tentang penentu nasibnya adalah :

a)      Alam sekitarnya dan segala isinya

b)      Kekuatan

c)      Tuhan

 

  1. b.      Beberapa Pengertian Gerak Sejarah

1)      Hukum fatum

Pada dasarnya alam raja sama dengan alam kecil yaitu manusia. Macro cosmos sama dengan micro cosmos. Cosmos menunjukkan bahwa alam teratur dan di alam itu hukum alam berkuasa. Hukum yang berlaku dalam macro dan micro cosmos yaitu alam raja dan alam manusia dikuasai oleh nasib (kadar) yaitu suatu kekuatan gaib yang menguasai macrocosmos-microcosmos.

Perjalanan hidup alam semesta ditentukan oleh nasib; perjalanan matahari, bulan, bintang, manusia dan sebagainya. Tak dapat menyimpang dari jalan yang sudah ditentukan oleh nasib.Hukum alam yang menjadi dasar dari segala hukum cosmos ialah hukum lingkaran atau hukum cyclus (siklus). Setiap kejadian, setiap peristiwa akan terjadi lagi, terulang lagi. Hukum cyclus di Indonesia di sebut dengan cakra manggilingan yang berarti bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari cakram itu dan bahwa segala kejadian-peristiwa berlangsung dengan pasti. Cakram adalah lambang nasib (kadar) yang berputar terus serba abadi tanpa putus.

 

2)      Faham Santo Augustinus

Faham fatum menjelma dalam agama nasrani sebagai faham ketuhanan dengan sifat yang sama;

  • kekuatan tunggal fatum menjadi tuhan
  • serba keharusan, menurut rencana alam, menurut ketentuan fatum menjadi kehendak Tuhan
  • sejarah sebagai wujud kadar menjadi sejarah sebagai wujud kehendak Ilahi.

Tujuan gerak sejarah adalah terwujudnya kehendak Tuhan yaitu civitas dei atau kerajaan Tuhan. Masa sejarah adalah masa percobaan, masa ujian bagi manusia. Kehendak. Tuhan harus diterima dengan rela dan ikhlas; mnusia tidak dapat melepaskan diri dari kodrat Ilahi;. Keharusan kodrat Ilahi menurut faham ini ditambah dengan ancaman di akhirat masuk civitas diaboli (kerajaan iblis) atau neraka.

 

3)      Pendapat Ibn Khaldun

Teori Ibn khaldun berdasarkan pada kehendak Tuhan sebagai pangkal gerak sejarah seperti Augustinus, akan tetapi Ibn Khaldun tidak memusatkan perhatiaannya kepada akhirat. Tujuan sejarah adalah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha penyempurnaan peri kehidupannya. Baginya sejarah adalah ilmu berdasarkan kenyataan, dimana tujuan sejarah adalah agar manusia sadar akan perubahan-perubahan masyarakat sebagai usaha penyempurnaan peri-kehidupan. Ibnu khaldun menunjukan perubahan – perubahan yang terjadi dalam masyarakat karena kadar Tuhan, yang terdapat didalam masyarakat adalah “naluri” untuk berubah.

Justru karena perubahan-perubahan itu berupa revolusi, pemberontakan, pergantian adat-lembaga. Maka masyarakat –masyarakat dan negara-negara mengalami kemajuan. Manusia dan semua lembaga-lembaga yang diciptakan olehnya dapat maju khususnya melalui perubahan. Nyatalah bahwa ibn khaldun dengan pasti mengemukakan perubahan sebagai dasar-kemajuan dan itulah yang kemudian disebut dengan teori-evolusi (teori kemajuan)yang diciptakan oleh Charles Darwin.

 

4)      Renaissance dan Akibatnya

Disebabkan oleh kegiatan-kegiatan para ahli filsafat di Zaman Renaisance, pengaruh gereja mulai berkurang. Perhatian manusia beralih dari dunia akhirat kedunia yang fana ini, kepercayaan pada diri pribadi sendiri bertambah dalam sanubari manusia. Manusia itu sendiri lambat laun melepaskan diri dari agama serta beranilah mereka mengembangkan semangat-otonom. Sumber gerak Sejarah tidak dicari diluar pribadinya tetapi dicari dalam diri sendiri.

Hubungan dengan cosmos diputuskan, ikatan dengan Tuhan ditiadakan, manusia berdiri sendiri atau otonom. Gerak Sejarah tidak menuju ke akhirat tetapi kearah kemajuan duniawi. Maka dalam hidup yang seolah-olah tidak memerlukan tuhan itu lagi, timbul faham-faham baru yang berpedoman evolusi-tak-terbatas. Faham-faham itu terkenal historical-materialisme atau economic determinims.     Faham ini menerangkan bahwa pangkal gerak sejarah ialah ekonomi, dimana gerak sejarah ditentukan oleh cara-cara menghasilkan barang keperluan masyarakat (produksi).

Gerak sejarah terlaksanakan dengan pasti menuju kearah masyarakat yang tidak mengenal pertentangan kelas. Kemajuan ilmu pengetahuan serempak dengan kemajuan filsafat dan  teknik mengakibatkan timbulnya alam pikiran baru di Eropa. Gerak sejarah dipangkalkan pada kemajuan (evolusi) yaitu keharusan yang memaksa segala sesuatu untuk maju. Faham historical-materialism yang disusun Karl Marx (1818-1883) dan F. Engels (1820-1895). Jelas pula bahwa otonomi yang dibanggakan oleh manusia abad ke-19 sebetulnya hanya pembebasan dari Tuhan dan penambatan kepada hukum ekonomi.

 

5)      Tafsiran Sejarah Menurut Oswald Spengler

Dalil Oswald Spengler ialah bahwa kehidupan sebuah kebudayaan dalam segala-galanya sama dengan kehidupan tumbuh-tumbuhan, hewan, sama pula dengan peri kehidupan manusia. Gerak sejarah tidak bertujuan sesuatu kecuali melahirkan, membesarkan, mengembangkan, meruntuhkan kebudayaan. Mempelajari sejarah bertujuan untuk mengetahui tingkat suatu kebudayaan (diagnose).

 

6)      Tafsiran Arnold J. Toynbee

Teori Toynbee didasarkan atas penyelidikan 21 kebudayaan yang sempurna dan  9 kebudayaan yang kurang sempurna. Menurut Toynbee gerak sejarah berjalan melalui tingkatan-tingkatan seperti berikut:

  1. genesis of civilizations – lahirnya kebudayaan
  2. growth  of civilizations – perkembangan kebudayaan
  3. decline of civilizations – keruntuhan kebudayaan
    1. breakdown of civilizations – kemerosotan kebudayaan
    2. disintegration of civilizations – kehancuran kebudayaan
    3. dissolution of civilizations – hilang dan lenyapnya kebudayaan

Pertumbuhan dan perkembangan suatu kebudayaan digerakkan oleh sebagian kecil dari pemilik-pemilik kebudayaan tersebut. Jumlah kecil tersebut menciptakan kebudayaan dan massa meniru. Tanpa meniru yang kuat dan dapat mencipta maka suatu kebudayaan tidak dapat berkembang

 

7)      Teori Pitirim Sorokin

Pitirim Sorokin adalah orang ahli sosiologi dan tersohor karangannya. Pendapatnya berbeda dengan aliran-aliran pendahulunya. Gerak sejarah terutama menunjukkan fluctuation from age to age yaitu naik turun, pasang surut, timbul tenggelam, dengan ganti berganti. Sorokin menyatakan bahwa gerak sejarah terutama menunjukkan fluctuation from age to age yaitu naik-turun,pasang-surut, timbul-tenggelam dengan berganti-ganti. Ia menyatakan tentang adanya cultural universe atau alam kebudayaan dan disitu terdapat masyarakat denagan aliran-aliran kebudayaan. Dalam ajaran yang seluas itu terdapatlah tiga corak (typus) yang tertentu yaitu :

  1. ideational yaitu mengenai kerohanian, ketuhanan, keagamaan, kepercayan.
  2. Sensate yaitu yang serba jasmaniah, mengenai keduniawian, berpusatkan panca indra.

Perpaduan daripada ideational-sensate ialah idealistik yaitu suatu kompromi

 

  1. c.       Gerak Sejarah Maju

Ide gerak sejarah yang maju ke depan sering dikemukakan para filsof yang cenderung mengukuhkan perbuatan manusia dan pencapaian-pencapaiannya dalam sejarah. Mengenai asal ide kemajuan ini bisa diacu pada pendapat-pendapat Bacon (Sahakian, 1968: 124-140) dan Descartes (Snyder, 1955: 25-28), dua panji kebangkitan ilmiah di Barat. Pada akhir abad ke-19 ide ini semakin tersebar luas, yaitu pada waktu terjadi polemik antara para pengikut sastrawan dan krtiisi lama dengan sastrawan dan kritisi baru.

Untuk mempertahankan sikap mereka, para pengikut sastrawan dan kritisi baru terpaksa menuduh para pengikut sastrawan dan kritisi lama bahwa mereka telah terperosok dalam khayalan pengukuran yang keliru. Yakni pada waktu mereka memandang orang-orang yang lebih dulu dari mereka sebagai orang-orang yang lebih kuat pikirannya. Padahal manusia apabila ia semakin dewasa kebijakannya pun semakin matang dan orisinal, demikian halnya kemanusiaan yang bersama perjalanan zaman semakin mengarah kepada kemajuan. Jadi, apabila manusia yang terdahulu mempunyai kelebihan dalam keterdahuluannya, maka manusia yang berikutnya mempunyai kelebihan dalam kesempurnaannya.

Teori kemajuan ini kemudian tersebar dan mempengaruhi bidang-bidang kegiatan manusia lainnya seperti politik, sosial, seni, filsafat, dan sejarah, sehingga pada abad ke-19 kata kemajuan memiliki berbagai makna. Di antara makna kata itu ada yang berkaitan dengan “ide perkembangan yang memandang watak manusia sebagai hasil tertinggi proses perkembangan itu sendiri”, dan oleh karena itu kemajuan historis juga terkandung dalam watak itu. Makna kata ini ada pula yang berkaitan dengan “filsafat denominasional”, di mana konsepsi kemajuan mengambil corak teori yang integral dalam filsafat sejarah, seperti halnya yang kita dapatkan pada beberapa filosof abad ke-19 seperti Karl Marx, Frederick Engels, dan lain-lain, atau dalam “filsafat sosial” yang diwakili oleh Auguste Comte dan John Stuart Mill. Kemudian pada abad ke-20, teori kemajuan meraih berbagai dukungan dari kalangan kaum Marxis, pragmatis, dan para penganut aliran eksperimental. Sejak awal kemunculannya, teori kemajuan erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Seruan para penganut teori ini pada dasarnya ditegakkan di atas kemajuan yang diraih kamanusiaan dalam sebagian ilmu pengetahuan yang membuat tersingkapnya sebagian hal yang tidak diketahui sebelumnya, dan di antara hasilnya adalah masa pencerahan dengan optimisme dan rasa percaya terhadap masa depan yang erat berkaitan dengannya, keinginan untuk mengendalikan alam, peremehan masa lalu dengan segala khurafatnya, dan keinginan untuk menguasai pembuatan sejarah.

Teori kemajuan ini oleh para pendukungnya dideskripsikan sebagai suatu proses akumulatif sepanjang masa. Oleh karena itu orang-orang zaman modern, dengan sarana dan ilmu pengetahuan yang mereka miliki, lebih maju ketimbang orang-orang zaman dahulu di bidang ilmu pengetahuan dan industri. Oleh karena itu kekaguman tidak logis terhadap orang-orang dahulu tidak mempunyai landasan, dan kekaguman itu menurut mereka merupakan batu penghalang jalan kemajuan manusia. Dengan pandangan yang demikian ini, kemajuan adalah filsafat optimistis yang memandang kesempurnaan manusia sebagai hal yang tidak terbatas dan sejarah manusia bergerak maju di mana pengetahuan manusia menjadi semakin berkembang dan sedikit demi sedikit semakin mendekati tujuan akhir masyarakat manusia, yaitu terealisasinya kebebasan, kesempurnaan, dan penguasaan sepenuhnya atas alam.

Dari segi lain, teori kemajuan mendapat kritik dari para penganut relativisme historis yang memandang teori kemajuan hanya sebagai salah satu pola organisasi sosial yang berupaya menganalisis realitas dan mengorganisasikannya berdasarkan percobaanpercobaan masa lalu, guna terjadinya perubahan yang lebih besar dan demi kebaikan sebanyak mungkin anggota-anggota masyarakat. Jadi, kemajuan dalam pengertian yang demikian ini merupakan suatu nilai moral yang lebih banyak mengandung suatu sifat pengarahan dan perasaan tanggung jawab bersama daripada merupakan suatu filsafat realistis tentang realitas sejarah dalam pengertiannya yang dikenal.

 

  1. d.      Gerak Sejarah Mundur

Kini kita beralih pada bentuk lani dari konsepsi beberapa peneliti tentang gerak sejarah. Apabila sementara ahli ada yang menganut ide gerak maju kemanusiaan ke depan, sebaliknya ada pula para ahli yang menyatakan bahwa kemanusiaan bergerak mundur. Namun ide gerak mundur historis ini tidak diperbincangkan banyak filosof, tidak seperti halnya dalam kalangan awam yang di setiap masa kita masih tetap mendengarkan dari mereka keluhan terhadap zaman dan kerinduan terhadap masa lalu, dengan kebaikan, kejayaan, dan keutamaan yang dimilikinya. Pesimisme historis yang demikian ini timbul, kadang-kadang, dari perasaan manusia yang merasakan kebrutalan masanya dan runtuhnya nilai-nilai estetis dan etis dalam kalangan banyak orang. Di antara faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya keadaan yang demikian itu adalah terjadinya peperangan yang menghancurkan, sirnanya harapan atas perdamaian dan perealisasian kemakmuran yang selalu berulang, dan sikap para tokoh agama terhadap kritik sosial atas etika masa yang sedang berlangsung.

Walaupun terjadi kemajuan berbagai sistem sosial yang bisa diamati, beberapa pemikir sering menyatakan ketidakmampuan kemanusiaan untuk mencapai kemajuan yang riil. Misalnya saja ujar Goethe: “Kini manusia menjadi lebih cerdas dan sadar, namun ia tidak menjadi lebih berbahagia dan bermoral”. Sementara Georges Sorel (meninggal pada tahun (1922) menentang para filosof kemajuan dan para penyusun teori-teori perkembangan sosial politik dan memandang para tokoh yang searah dengan Fovilles sebagai para penipu yang berkelebihan, sewaktu mereka menyatakan bahwa menyadari terjadinya peningkatan perasaan kehormatan manusiawi, kebebasan, dan individualitas dalam kalangan masyarakat dengan maju dan tersebarluasnya demokrasi.

Ide kemajuan, menurut beberapa penulis, dengan demikian merupakan ilusi yang dikemukakan sejumlah pemikir, filosof, dan pembaharu yang berpendapat bahwa sejarah umum, yang bergerak menurut garis horisontal, merupakan suatu “kemanusiaan” yang selalu bergerak. Akibatnya, mereka pun mengacaukan antara pengertian-pengertian yang tidak mempunyai indikator, seperti penguasaan rasio, kebahagiaan sejumlah besar orang, pencerahan, kebebasan bangsa-bangsa, penguasaan alam, perdamaian yang abadi, dan ilusiilusi lain-lainnya. Dalam hal ini mereka terdorong di belakang optimisme naif yang tidak dikuatkan oleh pengalaman sejarah: “Maka mereka pun mempunyai gambaran bahwa kemanusiaan bergerak secara terus-menerus ke arah suatu tujuan tertentu. Gambaran ini bukannya mereka terima karena adanya bukti ilmiah, tapi karena mereka mengharapkan hal itu dan harapan cukup menjadi bukti. Agar pandangan mereka itu mendapatkan landasan, mereka pun menciptakan kata “kemanusiaan”, dan seakan kemanusiaan merupakan sesuatu yang hakiki, maujud, hidup di luar”. Walau demikian kemanusiaan merupakan kata yang abstrak. Sebab, seperti dikatakan Goethe, dalam hari-hari yang telah lalu yang ada hanialah manusia. dan yang akan ada juga hanya manusia. Jadi, kata kemanusiaan itu ada kalanya mengandung makna species hewan dan ada kalanya tidak sama sekali mengandung suatu makna, baik apakah makna tujuan, perencanaan, atau upaya seperti dikemukakan para pendukung ide kemajuan.

Kaum pesimis ini sendiri, yang menganut ide gerak sejarah yang mundur ke belakang, apabila tidak mengajak massa untuk mengadakan revolusi yang keras, hampir tidak merefleksikan suatu garis pikiran yang gamblang dalam kalangan para sejarawan kebudayaan, karena sedikit sekali para filosof sejarah yang mengambil pendapat itu. Menurut pendapat paling ekstrem dari kaum pesimis ini, kebudayaan-kebudayaan mempunyai daur historis, yakni kebudayaan itu lahir, tumbuh, berkembang dan mati, seperti halnya makhluk hidup, untuk digantikan atau tidak setelahnya, oleh kebudayaan lainnya, seperti akan diuraikan nanti. Tampak bahwa sejarah – dalam perasaan manusia modern – telah menjadi suatu alam yang berjalin dan kompleks, yang membuat manusia tidak mampu memahami rinci-rinci dan bagian-bagiannya yang tersusun dalam satu pola yang bermakna. Menurut sejumlah penulis modern mengenai hal itu, rinci-rinci sejarah itu tidak menyajikan kepada kita kunci rasional apa pun yang membuat kita mampu memahami gerak sejarah. “Ia hanialah serangkaian perubahan-perubahan cepat yang tidak tergambarkan. Apalagi sejarahnya sendirilah yang tidak lagi membawa suatu misi ontologis yang bermakna: adakalanya ia tidak sama sekali mempunyai tujuan dan adakalanya mempunyai tujuan yang beraneka namun tidak ada satu pun yang memberi perasaan bermakna terhadap landasan harapan dan nilai-nilai manusiawi.

Pesimisme dalam memahami sejarah yang demikian itu, meski pada substansinya mengandung penghancur konsepsi kemajuan seperti yang dikenal, tidak menyatakan secara terang-terangan gerak sejarah yang mundur ke belakang, sebab ia mengungkapkan tentang sirnanya keyakinan atas keintegrala n rasio manusia, kesempurnaannya, dan kemampuannya untuk berhasil, mengaktualisasikan diri, dan berkembang, yaitu keyakinan yang begitu besar daya tarik dan pengaruhnya selama abad-abad pertama zaman modern. Oleh karena itu, masih banyak penulis modern yang menganut ide kemajuan, meski ide itu sendiri mendapat banyak kritikan dan meski sejumlah filosof merasa bahwa kebudayaan manusia modern hampir di ambang kehancuran.

Sebagai penutup uraian ringkas tentang ide gerak sejarah yang mundur ke belakang menuju ke hancuran, seperti dikemukakan sejumlah pengkaji, dapat dinyatakan bahwa seorang peneliti yang jujur tidaklah bisa membatasi perjalanan tertentu dari kebudayaan: bahwa ia bergerak maju ke depan atau mundur ke belakang. In i karena setiap kebudayaan mengalami kemajuan atau kemunduran, sebab itu masa lalunya tidak selalu bisa menjadi indikator masa depannya dan penguasaan intelektualnya terhadap alam pun tidak selalu menunjukkan kemajuannya yang menyeluruh. Untuk itu, perbincangan tentang masalah ini tidak akan diperpanjang lagi dan kini kita beralih pada sebuah pola lain dari gerak sejarah, seperti dikemukakan para penulis modern.

 

 

 

  1. e.       Gerak Sejarah Daur Kultural

Teori daur kultural adalah salah satu teori para pengasas filsafat kontemplatif sejarah, dimana konsepsi mereka tentang gerak sejarah biasanya tidak lepas dari upaya untuk menyingkapkan pola dan watak ritmenya. Di samping kelompok-kelompok yang menganut ide ge r a k  sejarah yang maju ke depan atau mundur ke belakang, seperti telah diuraikan di muka, ada kelompok yang menyatakan bahwa sejarah mempunyai daur kultural yang mengulang kembali dirinya sendiri dalam satu bentuk atau lainnya. Ibn Khaldun, Vico, Spengler, dan Toynbee dipandang sebagai para tokoh teori ini, meskipun sesama mereka tidak seiring pendapat mengenai rinci-rinci teori ini dan dimensi-dimensi sosial, historis, dan filosofisnya.

 

  1. f.       Sifat Gerak Sejarah

Teori-terori yang memberikan arah dan tujuan kepada gerak sejarah dapat disipulkan demikian :

  1. Tanpa arah-tujuan
  2. Pelaksanaan kehendak tuhan : gerak sejarah ditentukan oleh tuhan dan menuju kearah kesempurnaan manusia menurut kehendak tuhan
  3. Ikhtiar, usaha dan perjuangan manusia dapat menghasilkan perubahan dalam nasib yang sudah ditentukan oleh tuhan. Maka sejarah merupakan perimbangan antara kehendak Tuhan dengan usaha manusia
  4. Evolusi dengan kemajuan yang tidak terbatas : gerak sejarah membawa manusia setingkat demi setingkat terus kearah kemajuan.
  5. Disamping gerak evolusi itu terdapat paham historical-materialism yang menentukan bahwa masyarakat tak berkelas itu adalah muara daripada gerak sejarah setelah melalui masa kapitalis
  6. Reaksi terhadap faham evolusi itu menghasilkan beberapa aliran baru yaitu:
  • Aliran menuju ketuhanan seperti umpamanya faham A. J. Toynbee, bahwa gerak sejarah itu akan sampai kepada masa bahagia apabila manusia menerima tuhan serta kehendak tuhan sebagai dasar mutlak daripada perjuangannya
  • Aliran irama gerak sejarah menurut faham Pitirim Sorokin yang menyatakan bahwa gerak sejarah tidak bertujuan apa-apa dan bahwa gerak sejarah itu hanya menunjukkan datang lenyapnya atau ganti bergantinya corak-corak: ideational sensate dan idealistic
  • Aliran kemanusiaan yaitu suatu aliran yang sangat luas yang berpusatkan pendapat mutlak bahwa manusialah yang terpenting di dunia ini.

Gerak sejarah sukar ditentukan sifatnya karena kemungkinan-kemungkinan untuk memberikan tafsiran banyak sekali, tetapi betapa sukarnya juga untuk menentukan sifatnya nyatalah bahwa:

ü  Dasar mutlak daripada gerak sejarah adalah manusia

ü  Isi gerak sejarah adalah pengalaman kehidupan manusia

 

  1. g.      Tugas Manusia dalam Sejarah atau Manusia dalam Sejarah

Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula.

Apabila manusia dipisahkan dari sejarah maka ia bukan manusia lagi melainkan sejenis makhluk biasa seperti hewan. Sejarah adalah pengalaman-pengalaman manusia dan ingatan tentang pengalaman-pengalaman yang diceritakan. Maka peran manusia dalam sejarah adalah bahwa ia adalah pencipta sejarah, sebagai penutur sejarah dan pembuat sejarah. Sehingga manusia adalah sumber sejarah.

Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat dilepaskan dari sejarah. Manusia berjuang terus berarti dia terus berusaha memperbaiki taraf hidupnya. Ia terus diperkaya, diperindah, disempurnakan. Sejarahpun terus diperluas dengan perjuangan-perjuangan baru. Justru karena manusia menguasai warisan nenek moyang, ia dapat berjuang dengan lebih sempurna. Dengan menguasai sejarahnya, ia dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya.

Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting. Masyarakat tetap, tak bergerak menuju perubahan yang mengakibatkan kemajuan dan keruntuhan. Maka dapat disimpulkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari sejarah. Manusia berjuang berarti bahwa ia terus berusaha memperbaiki taraf kehidupan.

 

Menurut para filosof sejarah pengikut metode kontemplatif terdapat tiga pola gerak di mana sejarah berjalan sesuai dengannya, yaitu:

 

a)      Sejarah berjalan menelusuri garis lurus lewat jalan kemajuan yang mengarah ke depan atau kemunduran yang bergerak ke belakang.

b)      Sejarah berjalan dalam daur kultural yang dilalui kemanusiaan, baik daur saling terputus,dan dalam berbagai kebudayaan yang tidak berkesinambungan atau daur-daur itu salingberjalin dan berulang kembali.

c)      Gerak sejarah tidak selalu mempunyai pola-pola tertentu.

 

Sejarah adalah sejarah manusia dimana peran, penulis sejarah, dan peminatnya hanya manusia saja. Maka manusialah yang harus dipandang sebagai inti sejarah. Manusia tidak dapat dipisahkan dari sejarah. Manusia dan sejarah merupakan suatu dwi tunggal, manusia adalah subyek dan obyek sejarah. Sejarah menceritakan riwayat tentang manusia, dimana riwayat manusia diceritakan oleh manusia dan cerita itu dibaca juga dialami oleh manusia pula. Apabila hajat berjuang manusia menjadi lemah dan terus berkurang, maka gerak sejarah mulai membeku. Akhirnya gerak sejarah tidak tampak bergerak, berhenti dan bersifat statis. Pembekuan gerak sejarah berarti bahwa manusia tidak mengalami perubahan-perubahan penting